Di sela keriuhan kios daging itu, Titin mengundang setiap tetangga yang ia temui dengan binar mata yang sulit disembunyikan. Hatinya membuncah riang; pinjaman uang dari Subaidah akhirnya cair, cukup untuk menebus tiga kilogram iga sapi kualitas terbaik. Namun, dari sudut matanya, ia menangkap sosok Subaidah yang sedang memilah beberapa ekor ayam. Titin tercekat. Ada keinginan untuk menyapa dan mengundang perempuan itu, namun mendadak lidahnya kelu oleh rasa sungkan. Ia telah bersiasat, berbohong bahwa uangnya tidak cukup untuk sekadar membeli daging, padahal sisa pinjaman itu telah ia sisihkan untuk demi selembar gorden baru. Baginya, kemewahan kain yang menjuntai di jendela besok pagi adalah pertaruhan harga diri agar tamu-tamu lebaran terpukau saat melangkah masuk ke rumahnya.
“Saya duluan ya, Bu Sarah.”
Titin berpamitan terburu-buru pada salah satu pembeli, gesturnya kikuk, seolah pandangannya sengaja dipasang barikade agar tidak berserobok dengan Subaidah.
Dari kejauhan, Subaidah hanya bisa menatap punggung tetangganya itu yang kian mengecil, menjauh beberapa puluh meter darinya.
“Hm... gaya selangit, bayar utang sulit,” batin Subaidah menggerutu. Ia mendengus pelan melihat kelakuan Titin. Namun, sedetik kemudian, ia mengedikkan bahu; baginya, hidup memang tidak seru jika semua manusia bersikap lurus-lurus saja.
“Aduh Mas! Malu sekali saya,” keluh Titin sembari menyembunyikan wajah di balik telapak tangan. Suaranya tertahan, persis orang yang ingin menghilang ditelan bumi saat itu juga.
Titin baru saja menceritakan keteledorannya di pasar tadi. Dengan penuh percaya diri, ia berkoar-koar mengundang para tetangga untuk mampir besok. Ia sesumbar akan menjamu mereka dengan rawon iga sapi buatannya yang tersohor. Namun, euforia itu mendadak suram saat ia menyadari sosok Subaidah berdiri tepat di kios ayam sebelah, menyimak setiap kata yang keluar dari mulutnya dengan raut yang sulit diartikan.
“Malu kenapa?” tanya sang suami datar, matanya bahkan tidak beralih dari layar handphone.
Titin mendesah panjang, bahunya merosot.
“Ah! Sudahlah. Besok saya bawakan semangkuk rawon iga saja ke rumah Subaidah. Sekalian silaturahmi setelah salat Id nanti.”
Senja merona merah di ufuk barat, hampir magrib, ketika Titin melangkah memasuki pelataran rumah Subaidah.
“Assalamualaikum, Mbak Idah!” sapa Titin sembari menyerahkan semangkuk rawon yang masih hangat.
“Wa'alaikumussalam. Ayo, silakan masuk ke gubuk reotku ini,” balas Subaidah ramah, meski dalam hati ia menggerutu, ‘Aduh, bertamu kok pas magrib sih,’ sedikit kesal dengan ketidaktahuan waktu tamunya itu.
Subaidah segera bergegas ke dapur, memanaskan rica-rica ayam dan kukusan ketupat agar kembali segar untuk disuguhkan.
“Maaf ya, Mbak Idah, agak kesorean. Tadi di rumah ramai tamu,” jelas Titin sedikit kikuk saat Subaidah kembali dari dapur.
“Oh, begitu ya,” jawab Subaidah sekenanya, berusaha menyembunyikan rasa tidak nyaman.
Suasana ruang tamu Subaidah terasa ganjil. Gorden kusam berwarna hijau lumut yang tergantung di jendela seolah mengejek gorden baru yang dibayangkan Titin di rumahnya sendiri. Aroma rica-rica ayam pedas menyengat, kontras dengan wangi rawon iga buatan Titin yang tertutup di atas meja.
“Dimakan rawonnya, Mbak. Spesial iga sapi,” ujar Titin berusaha mencairkan suasana, meski matanya tidak bisa bohong—ia sibuk membandingkan kesederhanaan rumah Subaidah dengan ambisinya.
Subaidah tersenyum tipis, tipe senyum yang tidak sampai ke mata. Ia membuka tudung saji, menatap kuah rawon kental itu dengan tatapan menilai.
“Wah, baunya sedap. Pasti dagingnya empuk sekali, ya? Tidak sia-sia pinjaman cair, bisa beli kualitas nomor satu.”
Titin tersedak ludahnya sendiri.
“Bagaimana dia tahu?” pikirnya panik. Ia berlagak memperbaiki jilbab untuk menutupi kegugupan.
“Ah, biasa saja, Mbak. Cuma... ya, sisa-sisa rezeki.”
“Iya, rezeki memang harus pintar dikelola,” balas Subaidah santai sambil menyeruput teh. “Saya dengar, gorden baru di rumahmu sudah dipasang? Pasti rumah Mbak Titin kelihatan mewah sekali. Saya jadi malu, rumah saya Cuma begini adanya, apa adanya saja.”
Tepat saat itu, azan magrib berkumandang bersahut-sahutan. Suara itu terasa mencekam bagi Titin. Kalimat Subaidah barusan seperti tamparan halus namun telak. Kebohongan yang ia susun rapi di pasar kemarin sore, ternyata sudah tercium baunya lebih cepat dari rawon yang ia bawa.
Titin menunduk, menatap jarinya yang bertautan erat. Rasa malu yang kemarin ia ceritakan pada suaminya, kini meledak menjadi rasa terhina, sekaligus bersalah. Ia tersadar, gorden mahal yang ia idamkan kini terasa menjerat lehernya sendiri.
“Mbak Idah... saya pamit pulang ya,” suara Titin bergetar.
Subaidah menatap Titin lurus-lurus, menghentikan aktivitas minumnya.
“Oh! Iya, Mbak Tin, terima kasih ya, rawonnya.”
Titin mengangkat wajah. Ia melihat pantulan dirinya di mata Subaidah—seorang tetangga yang angkuh dan pura-pura kaya. Di tengah senja yang kian gelap, Titin sadar, gorden baru itu tidak akan bisa menutupi kebohongannya.
Komentar (4)