Logo
βŒ•
Jejak Purba dan Akar Pengetahuan Dunia di Indonesia
Beranda β€’ Artikel β€’ Kebudayaan kita

Jejak Purba dan Akar Pengetahuan Dunia di Indonesia

Burhanuddin Elbusiry
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
πŸ“ Kebudayaan kita
πŸ‘οΈ 519 β€’ ❀️ 1 β€’ πŸ’¬ 0
⏱️ 1 menit
πŸ“… 27 Jan 2026
Ringkasan:
Mari kita rayakan penemuan luar biasa ini dengan mengejar ketertinggalan, menyongsong masa depan, jangan sampai orang lain lebih bersemangat merayakannya dibanding kita sendiri. Lantaran di banyak negara penemuan luar biasa seperti ini akan segera didapuk menjadi ikon nasional, dijadikan mantra kebanggaan, sumber inspirasi pendidikan dan fondasi diplomasi kebudayaan.
Aa AA

Penemuan lukisan figuratif tertua dunia di gua-gua cadas Sulawesi baru-baru ini, bukan semata seni purba, juga bukan hanya pigmen merah pada dinding batu, tetapi suara leluhur kita yang datang dari 67.800 tahun lalu. Ia adalah bisikan dari masa lalu yang berhasil menyeberangi samudera waktu, menembus ribuan lapis generasi hingga akhirnya tiba di abad 21 ini.

 

Tak ubahnya selembar surat yang ditulis tanpa dikirim, tapi entah mengapa, ia berhasil sampai pada pembacanya. Ia laksana lentera kecil yang dinyalakan di tengah kegelapan purba, dan ajaibnya, nyala itu tidak padam meski dihantam berbagai prahara, badai, erosi dan jutaan musim hujan tenggara. Ia tetap menunggu generasi zaman ini, mendayung di antara harapan dan putus asa untuk menyalakan kembali makna dan semangatnya. 


Para leluhur kita, barangkali tidak menyangka bahwa guratan itu akan bertahan lama lebih dari aksara daerah kita sendiri, dan lebih langgeng dari kerajaan di seluruh Nusantara ini. Mereka seakan-akan menulis sebuah pesan dan harapan lalu menggantungnya pada dinding gua seraya memasrahkan selebihnya pada angin, hujan serta proses geologi untuk membawanya pada kita, generasi yang bahkan belum dibayangkan keberadaannya.  

Iklan


Namun, saat ini, ketika lukisan itu ditemukan di rimbun gelapnya gua sunyi yang jaraknya ribuan tahun lamanya, sebuah pertanyaan pun ikut terhunus: jika seandainya lukisan itu hilang atau tidak sempat ditemukan, apakah yang akan ikut menguap bersamanya? Sekadar gambarkah atau justru identitas kita sebagai sebuah bangsa? 


Penelitian yang diterbitkan di jurnal Science Advance dan Nature internasional ini tidak hanya menabalkan Sulawesi, dan Indonesia secara umum di level pertama dunia, tapi juga mengguncang peta arkeologi dunia dan merombak pola sejarah memandang asal-usul kreativitas manusia yang sejauh ini dianggap final, mapan dan tak terbantahkan. 

 

Selama ini pusat perhatian kita selalu tertuju ke Barat, atau setidaknya ke negeri yang jauh dari tanah kita sendiri, namun literasi gambar ini berkata lain, bahwa Indonesia adalah jantung dan poros awal pengetahuan manusia; bahwa leluhur Indonesia pernah menjadi pusat kreativitas dunia ketika sebagian besar wilayah lain masih beku dan gelap, bahkan Eropa tertinggal ribuan tahun lamanya dari Negeri ini. 

 

Dari Seni Cadas ke Akar Identitas


Sejak awal, seni cadas ini bukanlah sekadar adegan perburuan, melainkan jejak kognisi, simbolisme dan imajinasi. Tiga hal yang kelak menjadi fondasi bagi pengetahuan, filsafat, hingga peradaban modern dewasa ini. 


Namun, filsafat bukan satu-satunya yang lahir dari dinding gua ini, sains dalam bentuk yang paling awal sekalipun berakar dari hal yang sama: keingintahuan. Lantaran setiap lukisan purba adalah hipotesis visual tentang dunia. Jadi ketika leluhur kita mengabadikan adegan berburunya ia tengah mencoba memahami pola pergerakan, karakter, dan kemungkinan. Ini adalah bentuk awal dari observasi, prediksi, dan pengujian. 


Olehnya, minat sains bukanlah sesuatu yang baru muncul di abad ke-17 saat Galileo mengarahkan teleskop ke langit atau ketika ia menguji massa benda di Menara Pisa. Benih sains sebenarnya telah tumbuh jauh sebelumnya, dan sekali lagi, bukan di luar sana, tetapi dari tanah kita sendiri, digagas oleh leluhur kita sendiri, sekalipun masih dalam bentuk yang sangat sederhana.


Dan melalui penemuan ini, Indonesia memiliki narasi selain yang diajar-sebarkan di ruang-ruang kelas: narasi yang bukan hanya mitos atau dongeng, tetapi literasi visual, filsafat primordial, dan benih sains tertua di muka bumi. Olehnya, aneh rasanya bila generasi hari ini tidak melihat betapa signifikannya penemuan ini bagi kebangsaan kita, mengingat akar kecerdasan dan imajinasi bangsa ini telah tumbuh jauh sebelum konsep negara, bahasa, atau agama sekalipun. Bahkan tidak berlebihan rasanya ketika kita mengatakan: inilah DNA dan identitas asli kita sebagai sebuah bangsa. 


Penemuan luar biasa yang diakui oleh seluruh ilmuwan dunia ini, apa pun maknanya, tetap menyisakan satu kepastian tak terelakkan: bahwa ia bukan hanya sebuah lukisan atau tindakan teknis belaka, melainkan pertanyaan. Dan setiap pertanyaan, sekali lagi, adalah mula dari filsafat yang menggema melintasi sekian lapis generasi, semisal: Siapakah kita di dunia ini? Apa hubungan manusia dengan alam? Bagaimana kita berdamai dengan ketakutan dan merayakan harapan? Apa arti sebuah peristiwa hingga layak diabadikan? Serta sederet tanya lainnya. Dan kini, di hadapan kita, berdiri bukti paling awal dan otentik dari kesadaran manusia, bukan dari Eropa, bukan dari Timur Tengah, melainkan dari Sulawesi, Indonesia: tanah air kita sendiri. 


Kesadaran Naratif Yang Tak Pernah Putus


Jika menulusuri garis intelektual itu lebih jauh, kita akan mendapati resonansinya dalam mahakarya Sulawesi Selatan: Epos I La Galigo, karya sastra monumental terpanjang di dunia melebihi Mahabharata. Saya kira, ketebalan dan kerunutan serta keindahan bahasa I La Galigo bukanalah sebuah kebetulan sejarah, melainkan bukti bahwa wilayah ini telah lama menjadi ruang persenyawaan arkeologi pengetahuan di mana manusia merenung, menyusun, dan menarasikan dunia dengan kedalaman makna yang luar biasa. 


Artinya, ribuan tahun sebelum aksara dikenal, leluhur kita telah mengembangkan cara berpikir naratif melalui literasi lukisan yang mengisyaratkan keberanian berpikir untuk menata pengalaman menjadi simbol.


Dari dinding batu hingga ke lembaran I La Galigo, seolah membentang satu garis khayal yang tak terputus, yakni kecakapan dan kecenderungan leluhur negeri ini untuk memahami realitas melalui hunusan tanya, cerita dan sastra. Kedua warisan yang terpaut ribuan tahun lamanya ini, bernapas dalam irama intelektual yang sama, yaitu keinginan untuk mengabadikan dan menafsirkan dunia. 


Dalam I La Galigo, manusia, langit, dan alam bergerak dalam ritme kosmik, dan ini bukan sekadar dongeng rakyat sebagaimana anggapan banyak kalangan, tetapi suatu sistem filsafat yang menggabungkan kosmologi, etika dan hubungan manusia dengan jagad raya. 

 

Dengan demikian, kemunculan sastra filosofis I La Galigo, pengetahuan kebaharian, pelayaran phinisi, kelahiran filsuf dan pemikir Bugis sekaliber Nene Mallomo, Karaeng Pattingalloang, Kajao Laliddong, serta Retna Kencana Colliq Pojie bukanlah anomali, melainkan warisan dari kecerdasan kultural yang telah berakar sejak para leluhur terdahulu kita menorehkan kisah pertama mereka di dinding batu 67.800 tahun lalu. Dan ini tidak terbantahkan lagi. 

 

Sekarang, angkat wajah kalian wahai para generasi pelanjut bangsa Indonesia! Kubur semua mental terjajah! bumihanguskan seluruh watak terbelakang itu! Dan sadarilah bahwa mulai saat ini, kita punya narasi yang setara bahkan melebihi bangsa mana pun di dunia ini. 

 

Mari kita rayakan penemuan luar biasa ini dengan mengejar ketertinggalan, menyongsong masa depan, jangan sampai orang lain lebih bersemangat merayakannya dibanding kita sendiri. Lantaran di banyak negara penemuan luar biasa seperti ini akan segera didapuk menjadi ikon nasional, dijadikan mantra kebanggaan, sumber inspirasi pendidikan dan fondasi diplomasi kebudayaan. 

 

Sekali lagi, jangan sampai penemuan gigantis ini justru terasing di tanahnya sendiri, tenggelam di tengah bisingnya isu politik kampungan, gosip kawin-cerai para artis murahan, dan konten-konten sampah yang kian memuakkan, serta desas-desus bau kentut menjijikkan nan menyebalkan. 

 

Terakhir, Jujur, saya pribadi menulis ini karena dua kegelisahan: pertama, saya khawatir tatkala generasi ini lupa bahwa leluhur kita adalah para filsuf, pemikir dan saintis; dan yang kedua, saya risau manakala penerus negeri ini lupa bahwa dalam tubuhnya mengalir darah para intelektual yang gugur demi tegaknya mercusuar peradaban, yang semestinya terus dilestarikan dan diperjuangkan sampai tubuh kita berbalut kain kafan. Nah, itu!


Dukung Penulis
Suka karya ini? Kirim donasi untuk mendukung penulis favoritmu.
Top Donatur Penulis
Pendukung terbaik untuk penulis ini
#1
aku wahyu
1x donasi
Rp1.000
#2
Burhanuddin Elbusiry
1x donasi
Rp1.000
#3
Nur Wahyu Hidayat, M.Pd
1x donasi
Rp1.000
Iklan
❓ Tanya Jawab
Pertanyaan terkait artikel ini
Tanya
Belum ada pertanyaan. Jadi yang pertama πŸ˜„
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
Penerjemah dan Pengampu Mata Kuliah Filsafat Timur di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi, Malang.


Info Pembaruan

Terbit: 27 Jan 2026
Diperbarui: 05 Apr 2026

Hak Cipta:
Artikel ini merupakan hak cipta dari Burhanuddin Elbusiry. Dilarang menyalin, memperbanyak, atau mendistribusikan artikel ini tanpa izin tertulis dari penulis. Β© 2026 Burhanuddin Elbusiry

Komentar (0)

Komentar terbuka
Login untuk menambahkan komentar.
Login
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!