Logo
βŒ•
Menjelajahi Dualitas Eksistensi dalam "Sebelah Mataku"
Beranda β€’ Artikel β€’ Resensi Buku

Menjelajahi Dualitas Eksistensi dalam "Sebelah Mataku"

Nur Wahyu Hidayat, M.Pd
Nur Wahyu Hidayat, M.Pd
@wahyu
πŸ“ Resensi Buku
πŸ‘οΈ 102 β€’ ❀️ 2 β€’ πŸ’¬ 2
⏱️ 3 menit
πŸ“… 25 Jan 2026
Ringkasan:
Lirik lagu seringkali menjadi kanvas bagi para seniman untuk melukiskan pemikiran, perasaan, dan observasi mereka tentang dunia. Lagu yang liriknya Anda berikan, dengan repetisi dan kontras yang kuat, mengundang kita untuk menyelami sebuah eksplorasi mendalam tentang dualitas dalam persepsi dan penerimaan realitas.
Aa AA

"Sebelah mataku yang mampu melihat / Bercak adalah sebuah warna warna mempesona / Membaur suara dibawanya kegetiran / Begitu asing terdengar"


Bagian ini memperkenalkan "sebelah mata" yang pertama, sebuah mata yang aktif dalam pengamatan dunia fisik. Ia melihat "bercak warna yang mempesona," menunjukkan kemampuan untuk menemukan keindahan dalam hal-hal yang mungkin bagi sebagian orang terlihat acak atau tidak sempurna. Namun, penglihatan ini tidak sendirian. Ia juga merasakan "membaur suara dibawanya kegetiran / Begitu asing terdengar." Ini bisa diartikan sebagai kepekaan terhadap penderitaan atau ketidaknyamanan yang tersembunyi di balik permukaan yang indah, suara-suara batin atau sinyal-sinyal yang tidak kasat mata namun terasa getir, dan mungkin asing karena tidak sesuai dengan narasi keindahan yang coba ditangkap. Mata ini adalah mata yang sensitif, yang tidak hanya melihat yang baik, tetapi juga merasakan bayang-bayang di baliknya.


"Sebelah mataku yang mempelajari / Gelombang kan mengisi seluruh ruang tubuhku / Terbentuk dari sel akut / Dan diabetes adalah sebuah proses yang alami"

Iklan


"Sebelah mata" yang kedua ini memiliki fungsi yang berbeda: "mempelajari." Ini adalah mata internal, yang memahami proses-proses biologis dan eksistensial. Frasa "gelombang kan mengisi seluruh ruang tubuhku" bisa diinterpretasikan secara metaforis sebagai pengalaman hidup, emosi, atau bahkan kesadaran yang memenuhi setiap sel tubuh. Penekanan pada "terbentuk dari sel akut" mungkin merujuk pada kerentanan, penyakit, atau kondisi yang tidak terduga dalam tubuh, yang pada akhirnya membawa pada baris yang paling mencolok: "Dan diabetes adalah sebuah proses yang alami." Ini adalah sebuah pernyataan yang menantang pandangan konvensional. Penyakit yang sering dianggap sebagai musuh, di sini dilabeli sebagai "proses alami." Ini adalah pengakuan akan kerapuhan tubuh manusia, bahwa kondisi yang menyakitkan pun adalah bagian intrinsik dari keberadaan. Ini bukan tentang meromantisasi penyakit, melainkan tentang menerimanya sebagai bagian dari siklus kehidupan dan tubuh yang rentan.


"Tapi sebelah mataku yang lain menyadari / Gelap adalah teman setia / Dari waktu-waktu yang hilang"


Di sinilah inti filosofis lirik ini terungkap. Setelah melihat keindahan dan memahami kerapuhan, ada "sebelah mata yang lain" yang menyadari sesuatu yang lebih dalam. "Gelap adalah teman setia / Dari waktu-waktu yang hilang." Ini adalah pengakuan bahwa kegelapan β€” dalam artian metaforis sebagai kesedihan, kekecewaan, kehilangan, ketidakpastian, atau bahkan ketiadaan β€” bukanlah musuh, melainkan "teman setia." Kegelapan ini menemani kita melalui "waktu-waktu yang hilang," yaitu momen-momen yang mungkin kita sesali, lupakan, atau yang tidak pernah terwujud seperti yang kita harapkan.


Repetisi dari baris terakhir iniβ€”"Tapi sebelah mataku yang lain menyadari / Gelap adalah teman setia / Dari waktu-waktu yang hilang"β€”menegaskan bahwa kesadaran ini adalah pilar utama dari pesan lagu. Ini bukan hanya sebuah observasi, melainkan sebuah realisasi mendalam yang terus menerus muncul kembali.


Kesimpulan: Menerima Kegelapan sebagai Bagian Diri dan Alami


Lirik ini dengan indah menggambarkan gagasan bahwa realitas tidak hanya terdiri dari cahaya dan keindahan. Ada dualitas yang tak terhindarkan: pengamatan eksternal versus pemahaman internal, keindahan versus kegetiran, kesehatan versus penyakit. Yang paling penting, lagu ini menuntun kita untuk menerima bahwa "kegelapan" bukanlah sesuatu yang harus dihindari atau ditakuti, melainkan sebuah "teman setia" yang selalu hadir dalam perjalanan hidup. Seperti diabetes yang disebut sebagai proses alami, demikian pula kehadiran kegelapan dalam diri kita dan pengalaman kita adalah sesuatu yang fundamental dan tak terpisahkan.


Pada akhirnya, lirik ini mengajak kita untuk merangkul seluruh spektrum pengalaman manusia, baik yang terang maupun yang gelap. Itu adalah sebuah pengingat bahwa dalam setiap kehilangan dan setiap bayangan, ada sebuah kehadiran yang konstan, yang mungkin, pada akhirnya, adalah bagian dari diri kita sendiri dan sebuah proses alami dari eksistensi. Ini adalah lagu yang mengajak kita untuk melihat tidak hanya dengan mata fisik, tetapi juga dengan mata hati yang mampu menerima dan memahami kompleksitas kehidupan secara utuh.

Dukung Penulis
Suka karya ini? Kirim donasi untuk mendukung penulis favoritmu.
Iklan
❓ Tanya Jawab
Pertanyaan terkait artikel ini
Tanya
Belum ada pertanyaan. Jadi yang pertama πŸ˜„


Info Pembaruan

Terbit: 25 Jan 2026
Diperbarui: 05 Apr 2026

Hak Cipta:
Artikel ini merupakan hak cipta dari Nur Wahyu Hidayat, M.Pd. Dilarang menyalin, memperbanyak, atau mendistribusikan artikel ini tanpa izin tertulis dari penulis. Β© 2026 Nur Wahyu Hidayat, M.Pd

Komentar (2)

Komentar terbuka
Login untuk menambahkan komentar.
Login
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!