Logo
βŒ•
Thales dan Awal Keberanian Berpikir
Beranda β€’ Artikel β€’ Tokoh Ternama

Thales dan Awal Keberanian Berpikir

@Kahar
@Kahar
@Kahar
πŸ“ Tokoh Ternama
πŸ‘οΈ 131 β€’ ❀️ 2 β€’ πŸ’¬ 1
⏱️ 1 menit
πŸ“… 29 Jan 2026
Ringkasan:
Dari Thales, filsafat tidak lahir sebagai sistem matang, melainkan sebagai keberanian untuk bertanya dengan cara yang berbeda. Dan dari keberanian itulah, sejarah pemikiran perlahan mengambil bentuknya.
Aa AA

Dalam tradisi Yunani kuno, tercatat beberapa tokoh yang ditengarai sebagai tujuh orang bijak yang hidup sekitar abad ke-6 sebelum Masehi. Mereka bukan hanya filsuf dalam pengertian sempit, melainkan juga negarawan, pembuat hukum, penganjur kesalehan, sekaligus guru spiritual.


Menurut Plato, tujuh bijak bestari itu adalah: Thales dari Miletos, Chilon dari Sparta, Myson dari Chen, Pittacus dari Mytilene, Bias dari Priene, Solon, dan Cleobulus. Dari nama-nama tersebut, Thales sering ditempatkan di posisi paling awal, sekaligus paling menentukan.


Aristoteles bahkan menganggap Thales sebagai filsuf pertama, pendahulu bagi semua pemikir filosofis setelahnya. Hingga hari ini, ia kerap disebut sebagai bapak filsafat Barat. Menurut beberapa catatan, Thales adalah putra Examys dan Cleobulina, lahir di kota Miletus, wilayah Ionia, dekat Sungai Meander, kawasan Yunani di Asia Kecil yang kini termasuk wilayah AydΔ±n, Turki, sekitar tahun 620 SM.

Iklan



Thales dikenal sebagai cendekiawan yang menguasai banyak bidang: geometri, matematika, astronomi, mekanik, dan tentu saja filsafat. Pada zamannya, penguasaan lintas disiplin bukanlah sesuatu yang aneh. Pengetahuan, sains, teologi, dan kosmologi masih saling terkait erat. Dunia belum terfragmentasi oleh spesialisasi seperti sekarang. Seorang pemikir dituntut melihat kenyataan secara utuh.



Namanya semakin dikenal ketika ia berhasil meramalkan gerhana matahari pada 28 Mei 585 SM. Peristiwa ini begitu mengguncang dunia Yunani kala itu, karena gerhana dipahami sebagai pertanda murka para dewa. Meski kemudian diketahui bahwa Thales memanfaatkan penanggalan Babilonia, capaian tersebut tetap menunjukkan sesuatu yang baru: alam dapat dipahami melalui pola, bukan semata-mata mitos.



Dari Mitos ke Alam



Thales hidup pada masa ketika hampir semua pertanyaan besar tentang dunia dijawab dengan kisah para dewa. Hujan dipercaya sebagai air mata Zeus. Gempa bumi dipandang sebagai amukan Poseidon. Bintang-bintang dianggap lentera para dewa yang digantung di langit malam. Alam semesta adalah panggung mitologi, dan manusia hanya penonton yang pasrah pada cerita-cerita gaib yang diwariskan turun-temurun.



Dalam dunia penuh legenda inilah Thales tumbuh. Namun alih-alih menerima begitu saja penjelasan mitologis, ia justru mengambil langkah yang radikal untuk zamannya: mencari jawaban bukan pada dewa, melainkan pada alam itu sendiri. Ia tidak serta-merta menolak kepercayaan lama, tetapi memilih jalan lainβ€”jalan pengamatan dan penalaran. Konteks sosial pada masa itu juga tidak sederhana.



Thales hidup di penghujung periode perbudakan massal, di tengah perselisihan kelas yang tajam dan kesenjangan sosial yang menganga antara kaum kaya dan miskin. Pemberontakan kerap terjadi. Dunia Yunani bukan hanya bergolak secara kosmologis, tetapi juga secara sosial-politik. Dalam situasi seperti itu, cara berpikir lama mulai terasa rapuh.



Sebagaimana pemikir besar lainnya, Thales menolak tunduk sepenuhnya pada pola pikir zamannya. Ia merombak cara manusia memandang alam. Alam tidak lagi dipahami sebagai rangkaian kehendak ilahi yang tak tersentuh, melainkan sebagai sesuatu yang memiliki keteraturan dan dapat ditelaah. Ia membaca gejala dan sasmita alam secara falsafi, tanpa mengaitkannya secara langsung dengan kekuatan di luar nalar manusia.



Thales dianggap sebagai orang pertama yang secara sadar mencari archΓͺ, prinsip dasar dari segala sesuatu. Menurutnya, segala sesuatu berasal dari air. Pandangan ini mungkin terdengar sederhana, bahkan naif, bagi manusia modern. Namun yang terpenting bukan pada jawaban akhirnya, melainkan pada pertanyaannya. Air dipilih bukan karena mitos semata, melainkan karena pengamatan: air menopang kehidupan, berubah bentuk, dan hadir di mana-mana.



Menariknya, gagasan ini memiliki jejak dalam mitos penciptaan Mesir dan bangsa-bangsa Semit. Ini menunjukkan bahwa Thales tidak berpikir dalam ruang hampa. Ia menyerap, menyaring, lalu mengolah warisan budaya yang ada menjadi cara berpikir baru. Di sinilah letak signifikansinya. Thales bukan sekadar pemikir awal, melainkan penanda peralihan besar: dari mitos menuju logos, dari cerita menuju penalaran.



Dengan Thales, filsafat tidak lahir sebagai sistem matang, melainkan sebagai keberanian untuk bertanya dengan cara yang berbeda. Dan dari keberanian itulah, sejarah pemikiran perlahan mengambil bentuknya.

Dukung Penulis
Suka karya ini? Kirim donasi untuk mendukung penulis favoritmu.
Iklan
❓ Tanya Jawab
Pertanyaan terkait artikel ini
Tanya
Belum ada pertanyaan. Jadi yang pertama πŸ˜„
@Kahar
@Kahar
Penulis di Elbusirypedia. Fokus berbagi tulisan yang bermanfaat.


Info Pembaruan

Terbit: 29 Jan 2026
Diperbarui: 04 Apr 2026

Hak Cipta:
Artikel ini merupakan hak cipta dari @Kahar. Dilarang menyalin, memperbanyak, atau mendistribusikan artikel ini tanpa izin tertulis dari penulis. Β© 2026 @Kahar

Komentar (1)

Komentar terbuka
Login untuk menambahkan komentar.
Login
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!