Kita menyaksikan bagaimana oknum-oknum yang memiliki rekam jejak kurang pantas bisa naik ke tampuk kekuasaan, seolah-olah sistem seleksi telah buta atau sengaja dibelokkan. Ruang politik, yang seharusnya menjadi wadah pengabdian, acapkali tercemar oleh intrik, kepentingan pribadi, dan transaksi-transaksi yang merugikan rakyat. Suara-suara sumbang tentang "politik terlalu amis" atau "najis" bukan sekadar bualan, melainkan refleksi dari kekecewaan mendalam yang dirasakan masyarakat.
Fenomena ini menjadi lebih ironis ketika kita, sebagai warga negara, seringkali secara tidak sadar turut berkontribusi dalam melanggengkan siklus ini. Terkadang, karena kepraktisan sesaat, karena bujuk rayu, atau bahkan karena apatisme, kita "mendorong mereka" atau "mendukung mereka" yang sebenarnya kita tahu tidak memiliki integritas yang kuat. Sikap "teramat necis" atau "teramat manis" kita dalam menyikapi dinamika politik terlalu sopan dalam protes, terlalu mudah melupakan, atau terlalu cepat menyerah justru bisa menjadi celah bagi oknum-oknum tak bertanggung jawab untuk terus berkuasa.
Di sisi lain, ada juga figur-figur "cendekia" atau individu-individu berintegritas yang memilih jalur "pertapaan" dari hiruk pikuk politik. Mereka mungkin enggan terlibat karena melihat betapa kotor dan "iblisnya" arena tersebut, merasa bahwa idealisme mereka akan terkikis. Kehilangan mereka dalam gelanggang politik adalah kerugian besar bagi bangsa, karena potensi mereka untuk membawa perubahan konstruktif tidak termanfaatkan.
Namun, di tengah gambaran yang suram ini, penting untuk diingat bahwa tidak semua pejabat sama. Masih ada individu-individu yang tulus, berdedikasi, dan berintegritas yang berjuang di jalur politik. Mereka adalah harapan yang harus kita jaga dan dukung. Tantangannya adalah bagaimana membedakan mereka dari yang tidak, dan bagaimana memastikan suara mereka tidak tenggelam dalam bisingnya politik pragmatis.
Maka dari itu, situasi ini menuntut kesadaran kolektif. Kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan sistem atau oknum semata jika kita sendiri tidak aktif menjadi bagian dari solusi. Kita perlu lebih kritis dalam memilih, lebih berani dalam bersuara, dan lebih konsisten dalam menuntut akuntabilitas. Politik memang bisa jadi medan yang kotor, namun kita sebagai rakyat memiliki kekuatan untuk membersihkannya. Dengan tidak lagi bersikap "teramat praktis" atau "teramat manis" dalam menghadapi kebobrokan, kita bisa mulai membalikkan cermin retak Ibu Pertiwi ini, merefleksikan gambar yang lebih jernih dan berintegritas untuk masa depan bangsa.
Komentar (0)