Kita menyaksikan bagaimana oknum-oknum yang memiliki rekam jejak kurang pantas bisa naik ke tampuk kekuasaan, seolah-olah sistem seleksi telah buta atau sengaja dibelokkan. Ruang politik, yang seharusnya menjadi wadah pengabdian, acapkali tercemar oleh intrik, kepentingan pribadi, dan transaksi-transaksi yang merugikan rakyat. Suara-suara sumbang tentang "politik terlalu amis" atau "najis" bukan sekadar bualan, melainkan refleksi dari kekecewaan mendalam yang dirasakan masyarakat.
Fenomena ini menjadi lebih ironis ketika kita, sebagai warga negara, seringkali secara tidak sadar turut berkontribusi dalam melanggengkan siklus ini. Terkadang, karena kepraktisan sesaat, karena bujuk rayu, atau bahkan karena apatisme, kita "mendorong mereka" atau "mendukung mereka" yang sebenarnya kita tahu tidak memiliki integritas yang kuat. Sikap "teramat necis" atau "teramat manis" kita dalam menyikapi dinamika politik terlalu sopan dalam protes, terlalu mudah melupakan, atau terlalu cepat menyerah justru bisa menjadi celah bagi oknum-oknum tak bertanggung jawab untuk terus berkuasa.
Konten lengkap tersedia setelah login.
Komentar (0)