Ketika Lampu Padam di Pondok
Di pondok pesantren, malam tidak datang dengan perlahan.
Ia dijatuhkan.
Lampu-lampu dipadamkan serempak, seperti keputusan yang tidak memberi ruang tawar. Seketika, bangunan panjang yang siang hari dipenuhi suara langkah, doa, dan hafalan, berubah menjadi tubuh raksasa yang membeku dalam gelap. Pada saat itu, malam tidak sekadar tiba—ia mengambil alih.
Aku terbaring di ranjang besi yang dinginnya merambat hingga tulang. Di sekelilingku, para santri lain terdiam, tubuh-tubuh yang seharusnya beristirahat setelah hari panjang. Namun tidur tidak pernah benar-benar datang padaku. Begitu lampu padam, sesuatu di dalam dadaku ikut menyala—bukan cahaya, melainkan kewaspadaan yang tak kumengerti asalnya.
Kegelapan di pesantren bukan kegelapan biasa. Ia pekat, mutlak, dan patuh pada aturan. Tidak ada cahaya sisa, tidak ada lampu tidur, tidak ada celah dari dunia luar. Jendela-jendela ditutup, lorong-lorong menghitam, dan udara terasa lebih berat dari biasanya. Dalam gelap seperti ini, jarak antar benda lenyap. Ruang menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipetakan.
Dan aku merasa… diperhatikan.
Bukan oleh siapa pun yang bisa kusebut namanya. Melainkan oleh malam itu sendiri, yang seakan hidup, berdiri diam di sudut-sudut asrama, mendengarkan napasku yang terlalu sadar. Aku memejamkan mata, namun kesadaran justru menegang. Seperti ada kesalahan fatal jika aku benar-benar terlelap.
Setahun aku hidup di dalam pola ini.
Setiap malam, setelah lampu dipadamkan, pikiranku terjaga sendirian. Doa-doa yang biasanya menenangkan justru bergaung di kepala, bercampur dengan bayangan-bayangan yang tidak pernah muncul di siang hari. Dinding kayu berderit pelan. Angin menyelinap melalui celah atap. Dan setiap suara kecil terasa berlipat ganda, seolah malam ingin memastikan aku tidak lupa bahwa aku sendirian di dalam kesadaranku.
Waktu tidak berjalan lurus di pesantren saat gelap. Ia melingkar, mengulang jam yang sama, pikiran yang sama, ketakutan yang tidak pernah punya wajah. Hingga akhirnya, pada waktu yang hampir selalu sama—sekitar setengah tiga pagi—suara ayam berkokok dari kejauhan terdengar.
Di tempat lain, itu mungkin tanda pagi.
Di sini, itu penanda bahwa aku masih terjaga.
Barulah setelah suara itu, tubuhku menyerah. Tidur datang bukan sebagai istirahat, melainkan sebagai runtuhnya kesadaran. Seperti seseorang yang jatuh pingsan di tengah kegelapan. Namun bahkan itu tidak bertahan lama. Jam setengah empat, aku terbangun lagi. Selalu. Seperti ada tangan tak terlihat yang mengguncang kesadaranku, menarikku kembali ke ruang gelap yang belum selesai denganku.
Aku mencoba berzikir. Aku mencoba berdoa. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya imajinasiku sendiri—ketakutan yang tumbuh karena gelap, karena sepi, karena terlalu lama terjaga. Namun kata-kata suci pun terasa menggema kosong di ruang yang terlalu sunyi. Bukan karena kehilangan makna, tetapi karena malam menelannya sebelum sampai ke dadaku.
Kelelahan menumpuk dari hari ke hari. Tubuh mengikuti jadwal pondok, bangun pagi, belajar, beribadah, berjalan seperti santri lainnya. Namun jiwaku tertinggal di malam hari. Aku hidup setengah—siang dengan tubuh, malam dengan pikiran yang tidak pernah beristirahat.
Ada saat ketika aku bertanya-tanya:
apakah ini ujian, atau hanya pikiranku yang retak perlahan?
Air mata ingin jatuh, tetapi tidak lagi menemukan jalan. Bahkan menangis terasa seperti kemewahan. Yang tersisa hanyalah kehampaan yang dingin, seperti lantai masjid saat subuh, ketika kaki menyentuhnya tanpa alas. Dunia luar mungkin percaya bahwa pondok adalah tempat ketenangan, tempat mendekat pada Tuhan. Namun di dalam gelap ini, aku justru merasa paling jauh dari rasa aman.
Pesantren mengajarkanku disiplin.
Malam mengajarkanku ketakutan tanpa bentuk.
Aku tidak mengatakan bahwa ada sesuatu yang benar-benar hadir di sana. Tidak ada wujud, tidak ada suara yang jelas. Namun kegelapan itu terlalu konsisten untuk diabaikan. Terlalu patuh pada jadwal. Terlalu setia datang setiap malam. Dan aku mulai bertanya-tanya: apakah yang menggangguku adalah sesuatu di luar diriku, atau justru bayanganku sendiri yang membesar karena terlalu lama ditinggalkan sendirian?
Hingga kini, aku belum menemukan jawabannya.
Aku hanya tahu, setiap kali lampu dipadamkan di pondok pesantren, aku kembali menjadi penghuni ruang gelap itu. Menunggu ayam berkokok. Menunggu tubuh menyerah. Menunggu pagi datang tanpa benar-benar pernah tidur.
Dan aku menuliskan semua ini agar kegelapan tidak sepenuhnya menang.
Komentar (0)