Logo
βŒ•
Pengetahuan di Tengah Kebisingan Ruang Publik

Pengetahuan di Tengah Kebisingan Ruang Publik

Burhanuddin Elbusiry
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
πŸ“ Perbincangan Politik
πŸ‘οΈ 159 β€’ ❀️ 2 β€’ πŸ’¬ 0
⏱️ 1 menit
πŸ“… 31 Mar 2026
Ringkasan:
Pengetahuan, sekali lagi dalam ranah ini, hadir bukan sekadar alat untuk memahami dunia, tetapi juga fondasi bagi keadilan dan rasionalitas publik dalam kehidupan bersama kita.
Aa AA

Masih ingat dengan kasus kopi sianida Mirna? Ya, kajadian yang kala itu menyedot perhatian publik kita secara luas, memancing serentetan spekulasi yang berseliweran, emosi yang diaduk-aduk bahkan polarisasi opini yang tidak kalah mencekem.


Menariknya, dalam pusaran kasus yang sedemikian heboh itu, sosok yang tidak hadir dalam kejadian justru memainkan peran penting dalam mengungkap kebenaran: Ilmuwan.

 

Ia sebenarnya bukan saksi mata, juga bukan bagian dari lingkaran sosial korban, tetapi ia hadir sebagai saksi kunci dengan membawa sesuatu yang seringkali luput dari perhatian publikβ€”pengetahuan. (catatan: penggunaan kata pengetahuan di sini adalah padanan kata dari ilmu)

Iklan

 

Ia mengungkap kasus itu bukan dengan ingatan personal, bukan pula dengan kesaksian emosional, melainkan perangkat analisis yang ia miliki; dengan metodologi, dengan kerangka berpikir ilmiah; dengan akumulasi pengatahuan yang dibangun melalui disiplin dan proses pembelajaran panjang.


Dan saya kira di sinilah letak sesuatu yang kerap kali disalahmengerti dalam ruang publik kita: kebenaran tidak selalu hadir dari kedekatan fisik, melainkan dari kedalaman pengetahuan.

 

Ya, pengetahuan, sekali lagi, memiliki otoritas tersendiri. Ia tidak bergantung pada apakah seseorang hadir atau tidak dalam suatu peristiwa. Ia tidak tunduk pada siapa yang paling lantang berbicara atau siapa yang paling bisa menyentuh emosi publik.


Pengetahuan ini bekerja di atas dasar yang berbedaβ€”ia bekerja dengan bukti, logika, dan konsistensi, setidaknya. Dalam jantung pembahasan ini, pengetahuan menjadi semacam kekuatan otonom yang tidak mudah goyah oleh sentimen liar apapun yang berseliweran.

 

Sekedar disklaimer, saya sengaja menyinggung permasalahan ini lantaran ia akan menjadi dasar dari tulisan-tulisan saya selanjutnya. Bahwa ruang publik kita saat ini tidak baik-baik saja, dan ini menjadi tugas panjang bagi pemikir untuk senantiasa menganalisis setiap gejolak dan gejala instrumentalisasi sentimen apapun itu. Hal ini sekaligus memperlihatkan sesuatu yang lebih luas tentang bagaimana kita seharusnya memandang otoritas.

 

Pasalnya, dalam banyak kasus, masyarakat seringkali mengaitkan otoritas dengan pengalaman langsung: siapa yang melihat; siapa yang mengalami; siapa yang paling dekat. Namun, kasus ini menunjukkan bahwa ada jenis otoritas lain yang tidak kalah fundamental: otoritas epistemikβ€”otoritas yang bersumber dari pengetahuan.

 

Tapi perlu saya tekankan, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk kembali menguak perdebatan dan pertentangan purba antara rasionalisme dan emprisme atau pembahasan subjektivitas dan objektivitas. Tidak, sama sekali tidak.


Ini hanya upaya sederhana merumus-polakan jalan tengah sebagai antidot dari ruang publik yang saat ini teramat bising dengan berbagai bentuk politisasi dan instrumentalisasi di tengah penguasaan infrastruktur makna oleh segelintir orang yang melakukan banyak pengrusakan, baik itu fisik maupun mental, tapi ironisnya ia justru kebal hukum, untouchable.

 

Kita lanjut dulu guys. Otoritas pengetahuan semacam ini, uniknya, memiliki kekhasan tersendiri. Ia tidak emosional, tetapi tidak juga dingin. Ia tidak personal, tapi bukan berarti tidak relevan. Justru karena kemampuannya menjaga jarak dari sentimen pribadi, ia dapat melihat sesuatu dengan lebih jernih.


Karena karasteristik ini pula, ia tidak tidak mudah terjebak dalam bias kedekatan, tidak larut dalam arus simpati dan antipati. Dengan kata lain pendekatan ini memungkinkan kita melampaui individualitas yang sarat kepentingan pribadi dan golongan.

 

Namun, ini tidak berarti pengalaman personal tidak penting loh ya. Kesaksian langsung dalam kasus di atas tetap memiliki tempat, terutama dalam konteks hukum dan rekonstruksi peristiwa, tentunya. Tetapi, pengalaman tanpa pengetahuan, sebagaimana yang kita tahu, kerap kali rapuh nan ringkih. Ia mudah dipengaruhi oleh persepsi, oleh ingatan yang tidak selalu akurat, oleh interpretasi yang kerap berubah-ubah. Dan, saya kira, di sinilah pengetahuan hadir sebagai penyeimbang untuk menguji, memverifikasi, bahkan mengoreksi.

 

Dalam konteks yang lebih luas, fenomena ini mencerminkan bagaimana masyarakat kontemporer sebaiknya bersikap. Lantaran kita hidup di zaman di mana informasi meluber, tetapi tidak semuanya memiliki bobot yang sama. Di dalamnya ada opini, asumsi, serta keyakinan. Dan di antara semua itu, pengetahuan tetap memiliki posisi yang unik. Ia bukan sekadar salah satu suara di antara banyak suara itu; ia adalah standar yang mesti kita gunakan untuk menilai suara-suara lainnya.

 

Sayangnya, dalam praktiknya, otoritas pengetahuan seringkali ditentang dan ditantang oleh gelombang opini publik kita yang kadang tanpa dasar. Media sosial, semisal, memberikan ruang bagi setiap orang untuk berbicara, tetapi tidak dibarengi dengan mekanisme untuk menilai kualitas dari apa yang dibicarakan.

 

Naasnya, dalam situasi seperti ini, pengetahuan bisa saja tenggelam di tengah kebisingan itu. Ia bahkan kerap kali kalah cepat, kalah menarik, bahkan kalah popular dan viral dari gosip-gosip murahan. Isu-isu bau kentut yang disensionalisasi sedemikian rupa bahkan difestifalisasi sedemikian gila.

 

Namun demikian, kasus seperti sianida Mirna mengingatkan kita kembali bahwa pada akhirnya, yang bertahan bukanlah yang paling lantang bersuara, melainkan yang paling kuat dasarnya. Mungkin pengetahuan tidak selalu dominan dalam jangka pendek, tetapi ia memiliki daya tahan kedap sentimen yang tidak dipunyai oleh opini semata. Singkatnya, ia bekerja perlahan tetapi pasti.

 

Dan pada titik ini, kita bisa melihat bahwa kedigdayaan dan kegargantuanan pengetahuan bukan sekadar klaim normatif, melainkan fakta nyata. Ia terbukti mampu menembus batas-batas pengalaman individual, melampaui subjektivitas, dan menghadirkan bentuk kebenaran yang lebih dapat dipertanggungjawabkan.


Nah, pengetahuan, sekali lagi dalam ranah ini, hadir bukan sekadar alat untuk memahami dunia, tetapi juga fondasi bagi keadilan dan rasionalitas publik dalam kehidupan bersama kita. Itu!  

 

 


Dukung Penulis
Suka karya ini? Kirim donasi untuk mendukung penulis favoritmu.
Top Donatur Penulis
Pendukung terbaik untuk penulis ini
#1
aku wahyu
1x donasi
Rp1.000
#2
Burhanuddin Elbusiry
1x donasi
Rp1.000
#3
Nur Wahyu Hidayat, M.Pd
1x donasi
Rp1.000
Iklan
❓ Tanya Jawab
Pertanyaan terkait artikel ini
Tanya
Belum ada pertanyaan. Jadi yang pertama πŸ˜„
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
Penerjemah dan Pengampu Mata Kuliah Filsafat Timur di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi, Malang.


Info Pembaruan

Terbit: 31 Mar 2026
Diperbarui: 06 Apr 2026

Hak Cipta:
Artikel ini merupakan hak cipta dari Burhanuddin Elbusiry. Dilarang menyalin, memperbanyak, atau mendistribusikan artikel ini tanpa izin tertulis dari penulis. Β© 2026 Burhanuddin Elbusiry

Komentar (0)

Komentar terbuka
Login untuk menambahkan komentar.
Login
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!