Pernakah kita bertanya, mengapa sebuah nada mampu membuat dada sesak seolah tanpa sebab? Mengapa satu lantunan bisa membuat orang lain berderai air mata, sementara ribuan kata tak sanggup melakukannya? Mengapa ada musik yang hanya lewat di telinga, dan ada musik yang menetap, berdiam, lalu mengubah kita secara perlahan?
Musik, sebetulnya, bukanlah sekadar bunyi. Ia adalah getaran yang mencari rumahnya di dalam jiwa manusia yang tengah merindu. Ia masuk tanpa mengetuk, lalu menata ulang ruang batin yang semula berantakan. Kadang juga ia menjadi pelipur lara, kadang ia menjadi pengingat. Kadang ia membius, kadang ia membingungkan. Di sanalah, kira-kira, bahaya sekaligus kemuliaanya.
Sebab, tidak semua bunyi itu netral; tidak semua nada itu "suci". Ada yang menurunkan kesadaran, ada yang meningkatkannya. Ada yang meninggikan ego, ada juga yang melunakkan hati. Dan di antara keduanya, manusia berdiri—memilih apa yang ingin ia dengar, sekaligus memilih ingin menjadi siapa ia kelak.
Saya teringat sebuah kisah tentang al-Farabi. Pada malam terakhir berada di Damaskus, ia diminta memainkan musik di hadapan para hadirin setelah mengomentari para pemain musik yang diundang sang raja. Pada stansa pertama para pendengar tertawa. Dan tatkala stansa kedua mengalun, mereka berderai air mata. Lalu, ketika stansa terakhir dimainkan, seluruh hadirin tertidur pulas. Dalam sunyi yang ganjil itulah, ia menyelinap di antara kerumunan, meninggalkan majelis, lalu mengembara ke negeri nun jauh entah berantah.
Tatkala ditelisik, kisah itu bukan sekadar anekdot romantik tentang seorang filsuf-musikus belaka, saya kira. Ia adalah penegasan bahwa musik memiliki kuasa atas lapisan terdalam kedirian kita. Tertawa, menangis, tertidur—tiga keadaan jiwa yang berbeda—lahir dari satu instrumen yang sama. Bukan karena alatnya, tetapi kesadaran yang dipantiknya.
Segendang sepenarian dengan itu, Al-Farabi juga pernah berujar: selera musik satu komunitas menentukan dan menandakan kualitasnya. Musik, menurutnya, bukanlah selera belaka. Ia adalah kemudi kebudayaan, pemahat-bentukan kepribadian, dan upaya penyucian moral-spiritual kemasyarakatan. Ya, dalam setiap nada, ritme, serta harmoni ada arah, disiplin, dan visi tentang keteraturan serta kesadaran.
Semisal, sebuah masyarakat yang akrab dengan kebisingan, dengan musik yang penuh dengan ledakan-ledakan tanpa kedalaman. Apa kira-kira yang akan tumbuh di antara mereka secara perlahan? Bagaimana kepribadian mereka? Kurang mawas, kira-kira ya!?. Kepekaannya kemungkinan akan menipis. Emosinya mudah tersulut. Sebaliknya, masyarakat yang membiasakan diri dengan harmoni, dengan komposisi yang tertata dan lirik yang bernas, perlahan akan memahat jiwa kolektif masyarakat yang lebih reflektif. Musik dalam ranah ini bekerja senyap, tetapi pengaruhnya pada watak dan kepribadian itu menetap.
Bahkan, ia menjadi zikir yang melodis. Zikir yang tidak berupa lafaz tetapi getaran, gelombang, vibrasi dan resonansi yang justru lebih akrab nan karib dengan kosmologi hidup kita. Selain itu, dalam tradisi spiritual, zikir adalah pengulangan yang menyadarkan, yang mengembalikan hati pada pusat dan aksentusinya. Musik pun bekerja dengan cara yang demikian.Tangga nada, melodi, harmoni, ritme yang ajek dan seterusnya—semuanya bisa menjadi jalan kembali. Jalan pulang menuju kesadaran kemanusiaan kita yang lebih bening.dan jernih nan cemerlang.
Jadi, tidak semua bunyi mampu menggugah kesadaran. Ada bunyi yang hanya memekakkan. Ada juga bunyi yang membuka pintu semesta batin kedirian. Melodi yang melapangkan dada. Tangga nada yang membuat jiwa tunduk-patuh dalam kontemplasi yang mengakar serta menghunjam hingga ke palung sukma terdalam kemanusiaan. Dan, di sanalah musik menjelma lebih dari sekadar hiburan—ia menjadi jalan. Kira-kira demikian. Sebagaimana ujar-ujar:
الموسيقى صوت الحق يوصل القلوب إلى الحق
“Musik, suara kebenaran yang menghantarkan hati menuju Tuhan”
Hal ini tentu, bukan lantaran setiap musik menyebut nama-Nya, tetapi karena harmoni sejati selalu mengarah pada Yang Maha harmoni. Keteraturan nada mengingatkan kita pada keteraturan semesta. Keindahan komposisi mengisyratkan adanya sumber keindahan. Artinya, manusia, di satu sisi, adalah makhluk resonansi; hatinya bergetar bersama apa yang ia simak dan dengar.
Olehnya, memlih musik bukan perkara biasa, sebetulnya. Ia adalah pilihan getaran. Pilihan kualitas batin. Apa yang kita dengarkan hari ini, akan menjadi watak kita esok hari. Dengan kata lain, jika tubuh dibentuk oleh makanan, maka jiwa dibentuk oleh bunyi. Kurang lebih begitu.
Dan barangkali, itulah sebab pada malam terakhir di Damaskus, Al-Farabi tidak sekadar memainkan musik, melainkan memperlihatkan bagaimana nada dapat menggerakkan manusia dari tawa, ke tangis, lalu ke tidur—seolah-olah ia tengah menunjukkan peta jiwa pedalaman kita. Setelah itu, ia pergi ke negeri nun jauh, seakan mengajarkan kepada kita bahwa: musik adalah pintu menuju semesta tepermanai yang lebih luas dan tak terperih.
Musik pada akhirnya bukanlah sekadar suara. Ia adalah jalan sunyi yang bergetar, zikir yang tak selalu terucap, yang terus berdentang dan memahat kepribadian, karakter dan membersihkan jiwa filosofis-spiritual kita di satu sisi serta memoles etika sosiologis-antropologis kita di sisi lain.
Komentar (0)