Ada yang aneh dengan cara kita mengagumi hari ini. Imajinasi yang seharusnya menjadi ruang paling kreatif dalam batin manusia, justru seringkali salah kaprah. Bukan lantaran imajinasi itu sendiri keliru, tetapi karena semesta batin kita dipenuhi oleh hal-hal yang jauh dari kenyataan yang pernah membentuk kita.
Tentu itu sah-sah saja, agama bahkan menitikberatkan imajinasi yang kerap diistilahkan quwwatul khoyali dalam tradisi irfani. Dan imajinasi memang tidak perlu dibatasi, saya kira. Lantaran membatasinya justru akan menumpulkan kreativitas.
Tapi, ketika berkaitan dengan sosok yang dikagumi, itu menjadi hal lain, sepertinya. Karena yang seringkali muncul—khususnya bagi milennial dan genzi—justru boy band, karakter fiktif, atau avatar hewan dan sebagainya. Ini fenomena aneh, bagi saya, karena seolah menjadi indikasi bahwa Negeri ini atau agama maupun filsafat tidak memiliki pahlawan atau figur yang layak ditokohkan.
Padahal imajinasi yang sehat, dalam jantung pembahasan ini, semestinya berakar pada realitas. Ia tumbuh dari pengalaman, sejarah, dan tokoh-tokoh nyata yang pernah memberi makna bagi kehidupan. Namun hari ini, imajinasi kita seperti tercerabut dari tanah tempat seharusnya ia berpijak.
Ia melayang di ruang yang maya kuasa dipenuhi gambar-gambar yang ditengarai menarik, tetap miskin kedalaman makna dan nir-visi. Yang hadir dalam benak bukan lagi tokoh nyata dengan kisah dan perjuangan, melainkan representasi visual yang tak jelas arah dan tujuannya.
Segendang sepenarian dengan itu, Benedict Anderson pernah mengatakan bahwa bangsa ini adalah imagined community—sebuah komunitas bayang-bayang yang hidup karena imajinasi kolektif melalui sejarah, simbol, dan figur. Artinya, kebangsaan kita tidak hanya berdiri di atas wilayah geografis, tetapi pada imajinasi bersama tentang apa dan siapa yang kita anggap penting dalam perjalanan kehidupan (ke)bangsa(an).
Pasalnya, ketika figur-figur pahlawan, pemikir tidak lagi hadir dalam imajinasi kolektif, yang melemah bukan hanya pengetahuan sejarah, tetapi juga cara kita membayangkan bangsa kita sendiri.
Di titik inilah keganjilan itu cukup terasa, nampaknya. Kekaguman tidak lagi lahir dari kedalaman nilai, melainkan dari kedekatan visual. Yang memikat bukan lagi pengorbanan, tetapi penampilan. Yang diingat bukan lagi sejarah, tetapi apa yang paling sering berseliweran di layar.
Dan perlahan tanpa kita sadari, imajinasi yang seharusnya menjembatani pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan bangsa, justru menjadi ruang pelarian dari kenyataan sejarah kita sendiri.
Carl Gustav Jung sendiri mendedahkan bahwa manusia secara psikologis membutuhkan figur arketipal—pahlawan, bijak bestari, filosof—sebagai penopang semesta batin kita. Ironisnya, ketika figur nyata ini tidak lagi hadir, arketipe itu tidak hilang, melainkan beralih ke yang lain. Ia diisi oleh tokoh fiktif, karakter ilusif, atau tokoh populer yang paling sering terlihat namun belum tentu sebagaimana kelihatannya.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan yang cukup serius, tentunya. Apakah ini tanda keterputusan pada sejarah? Apakah ini gejala psikologis kolektif? Ataukah kita memang bukan bangsa pembaca sehingga lupa sejarahnya sendiri? dan membaca sejarah ini bukan sekadar mengetahui tanggal dan nama, tetapi membangun kedekatan emosional dengan masa lalu, merasa terhubung dengan orang-orang yang telah lebih dahulu berjuang sebelum kita.
Dan ketika hubungan itu putus, yang terjadi adalah kekosongan figur yang mudah diisi oleh apa saja yang tampil menarik di layar ponsel. Belum lagi algoritma media sosial lebih cepat bekerja daripada sejarah itu sendiri (kendati mesti jeli juga membaca sejarah). Wajah-wajah boy band lebih sering muncul daripada wajah pahlawan. Karakter avatar lebih sering dilihat daripada potret-potret tokoh-tokoh yang pernah mengorbankan hidupnya untuk kemerdekaan bangsa dan martabat bangsa.
Akhirnya yang dikagumi bukan lagi mereka yang memperjuangkan kemanusiaan, tetapi mereka yang tampil menarik secara visual. Kekaguman lalu berpindah dari nilai ke tampilan; dari pengorbanan kepada popularitas; dari sejarah kepada hiburan; dari kenyataan kepada imajinasi yang cenderung ilusif.
Memang, mesti diakui bahwa generasi hari ini tumbuh dalam banjir visual, bukan pada kedalaman narasi. Kita lebih akrab dengan video pendek daripada teks panjang. Lebih dekat dengan karakter animasi daripada kisah perjuangan manusia nyata. Dan pelan-pelan, tanpa disadari, ingatan kolektif tentang tokoh-tokoh bangsa ini aus, karena tidak lagi dihadirkan dalam ruang perhatian kita.
Di sisi lain, ada kecenderungan yang tidak kalah berbahaya yang mesti diantisipasi: upaya mempahlawankan satu tokoh dari satu daerah dengan selubung etnosentrisme. Seolah-olah pahlawan itu milik satu suku, satu wilayah, satu identitas kedaerahan. Padahal pahlawan adalah milik bangsa, bukan etnis.
Ketika pahlawan mulai ditarik ke dalam batas-batas sempit identitas kedaerahan, sejarah berubah menjadi alat pembenaran kebanggaan lokal yang sempit, bukan lagi sebagai memori kolektif bangsa. Dan, apesnya, ini akan memicu dan memacu politik identitas serta balkanisasi.
Dan, yang terjadi kemudian bukan lagi penguatan identitas nasional, tetapi fragmentasi ingatan. Setiap daerah sibuk mengangkat tokohnya sendiri dengan cara yang kadang berlebihan, tanpa melihat konteks sejarah yang utuh. Ini berpotensi melahirkan narasi sejarah yang parsial, bahkan bias, lantaran didorong oleh kebanggaan etnis, bukan oleh kejujuran sejarah yang saling berkelindan.
Sekali lagi, mungkin ini bukan semata-mata kesalahan generasi sekarang. Bisa jadi ini kegagalan sistem dalam menghadirkan kembali sejarah dalam bentuk yang lebih hidup. Lantaran kita membiarkan sejarah menjadi tumpukan fakta yang membosankan, bukan sebagai alat analisis; bukan kisah manusia yang penuh pergulatan, keberanian dan pengorbanan. Singkatnya, kita gagal menjadikan pahlawan sebagai figur yang dekat dan relevan, bukan sekedar nama jalan atau gedung, semisal.
Tetapi, apapun itu, fenomena sosial yang lagi naik daun di dunia maya dengan mengganti wajah dengan avatar,boy band, tokoh fiktif, atau hewan mengisyaratkan solah-olah bangsa ini benar-benar kehabisan tokoh inspiratif. Karena dibalik itu ada sesuatu yang lebih dalam: keterputusan generasi hari ini dengan akar sejarahnya sendiri.
Dan mungkin disitulah masalah sebenarnya. Bukan pada avatar, bukan pada boy band, bukan pada gambar-gambar yang berseliweran di yang maya kuasa. Tetapi pada ingatan yang mulai memudar. Pada sejarah yang tidak lagi dianggap milik sendiri. pada bangsa yang perlahan-lahan kehilangan kedekatan dengan orang-orang yang pernah memperjuangkan bangsa ini.
Komentar (1)