Logo
Antara Bencana, Takdir dan Ketidakjelasan Pemerintah

Antara Bencana, Takdir dan Ketidakjelasan Pemerintah

Burhanuddin Elbusiry
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
👁️ 500 • ❤️ 2 • 💬 0
⏱️ 1 menit
📅 26 Jan 2026
Ringkasan:
Indonesia tidak kekurangan pengetahuan, juga tidak kekurangan pijakan yang bernilai, tetapi tidak adanya kejelasan keberpihakan dan nir-keberanian politik untuk menolak proyek yang merusak meski bernilai triliunan. Olehnya, selama pemerintah terus ambigu—berpura-pura ilmiah tapi takut pada kepentingan, berbicara moral tetapi abai pada keadilan—bencana ini akan terus berulang nampaknya, bukan sebagai takdir, melainkan sebagai kegagalan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain.
Aa AA

(Sekadar disklaimer, essai ini ditulis tahun lalu. Namun, seperti kata peloak di pasar buku bekas ke saya kala itu: biar terbitan lama kalau belum pernah dibaca, tetap saja ia terbilang baru. Hehe)

 

Baik, mari kita mulai: Indonesia di satu sisi adalah Negeri yang dibentuk oleh bencana. Mulai dari Aceh yang diguncang tsunami 2004, Palu yang terbelah oleh likuifasi, letusan gunung berapi yang nyaris menjadi rutinan, hingga banjir yang datang silih berganti belakangan ini. Jika diteliti dengan seksama sebagian besar kejadian ini bukan sekadar bencana alam, melainkan peringatan historis yang terus berulang. Namun, anehnya, di negeri yang sedemikian akrab dengan bencana ini, kesadaran mitigasi justru masih tertatih dan belum menjadi prioritas pemerintah. Ini sungguh disayangkan.

 

Dan sering kali, kejadian-kejadian itu kita sebut sebagai takdir, musibah, maupun cobaan (bukan cobain loh yah), serta beranggapan seolah alam bekerja di luar rasio manusia sepenuhnya. Padahal, dalam banyak kasus, bencana bukan semata peristiwa alamiah, melainkan hasil dari kegagalan kebijakan, keserakahan ekonomi para bromocorah, serta ketidakbecusan dan ketidakseriusan negara dalam memandang sains di satu sisi dan ketidakberpihakan kebijakan politik di sisi lain. Dan ini betul-betul menggelikan.

Iklan

 

Saat ini, saya kira, pendekatan saintifik sudah cukup memadai dalam membaca dan mengelola resiko bencana. Data geologi, klimatologi, tata ruang, hingga kajian lingkungan hidup sudah tersedia dan semakin berkembang. Para peneliti juga telah lama memperingatkan bahaya deforestasi, pembalakan liar, penanaman pohon monokultur seperti sawit, pertambangan illegal dan legal—tetapi tetap saja merusak dan seolah dibiarkan oleh pemerintah kita sendiri—, pembangunan di zona patahan atau daerah aliran air sungai, serta kawasan yang berfungsi menahan banjir dan longsor.

 

Tetapi peringatan itu kerap kali kalah oleh proyek-proyek besar: tambang yang sejak dulu meresahkan, penggundulan hutan atas nama investasi, industri-industri yang tidak ramah lingkungan, serta berbagai hilirisasi yang kian digembor-gemborkan sebagai jalan menuju kemajuan, namun hari ini kian terbukti merusak bumi dan manusia. uuh!

 

Masalahnya, nampaknya, bukan karena tidak adanya data pengetahuan, melainkan ketidakjelasan pemerintah kita. Pemerintah seakan berdiri di dua kaki yang saling menyerimpung satu sama lain. Di satu sisi mengklaim berbasis sains dan teknologi, terutama ketika kampanye dengan gaya bahasa populisme teknokratik. Dan, ini menyebalkan serta memuakkan. Di sisi lain, menggunakan narasi moral-religius untuk meninabobokkan rakyat sembari menyembunyikan ketidakbecusan. Dan, ini sangat menjijikkan nan menjengkelkan.

 

Tidak jarang pula bencana-bencana ini disambut dengan doa bersama dan ritual. Tentu itu sah-sah saja sebagai ekspresi kultural dan spiritual, tetapi menjadi bermasalah ketika mengabaikan apalagi menggantikan evaluasi struktural dan kebijakan yang berbasis bukti empirik-saintifik. Dan pada gilirannya, alih-alih agama dirahkan untuk evaluasi dan perubahan sistemik, perbaikan kebijakan, dan penegakan hukum di berbagai sektor, ia justru kerap kali dipelintir dengan dijadikan sebagai penghiburan bahkan pembenaran.

 

Pada episentrum inilah, kebingungan itu mengemuka sedemikian jelas: apakah negara ini berpihak pada penelitian ilmiah atau pada tafsir moral yang seringkali ambigu atau bagaimana? Pasalnya, jika pemerintah berpihak pada sains, mengapa pendapat dan rekomendasi para ahli acap kali diabaikan? Pun demikian, jika pemerintah mendukung prinsip moral keagamaan, mengapa nilai keadilan ekologis, tanggung jawab lintas generasi, dan perlindungan terhadap yang rentan justru tidak diseriusi dan direken? 

 

Dan, parahnya, tatkala agama direduksi menjadi simbol, pemanis, dan retorika belaka, ia tentu akan kehilangan daya humanisnya. Demikian halnya, ketika sains hanya dijadikan pelengkap pidato dan kepentingan pemilu, daya transformatifnya justru akan lumpuh.

 

Kita ambil contoh kasus banjir Aceh baru-baru ini, semisal. Ia adalah kejadian paling nyata bagaimana kegagalan mitigasi dan tata kelola lingkungan yang memperburuk dampak bencana. Di akhir November hingga awal Desember 2025, Aceh dilanda banjir dan longsor yang sangat parah. Per hari ini, Rabu (17/12/2025), rilis terbaru korban banjir dan longsor Aceh, Sumatera Utara dan Barat bahkan mencapai 1.053 yang meninggal dunia, 7.000 terluka dan 200 orang masih dinyatakan hilang.

 

Itu pun masih belum ditetapkan sebagai bencana nasional dengan berbagai alasan, mulai dari pemerintah mengklaim bisa mengatasinya sendiri sampai pada tidak memenuhinya syarat berdasarkan Undang-Undang dan pertimbangan-pertimbangan lain yang tidak sepenuhnya berpihak pada korban. Belum lagi ketika ada politikus jahannam yang datang dan menjadikannya sebagai ajang pencitraan dan komodifikasi duka serta eksploitasi bencana. Dan ini betul-betul di luar dugaan. Bahkan Abu Jahal dan Firaun sekalipun sulit menerima ini, saya kira.

 

Lalu, apa yang membuat banjir Aceh dan serentetan bencana lainnya bukan lagi sekadar peristiwa biasa? Analisis lingkungan Aceh sebagaimana yang diunggah oleh ANTARA News menunjukkan bahwa kondisi DAS (Daerah Aliran Sungai) dan hulu sungai mengalami degradasi serius. Aktivitas penebangan dan pembukaan lahan di hulu sungai untuk perkebunan dan tambang illegal mengurangi kemampuan tanah menyerap air sehingga mempercepat aliran massa air ke pemukiman. Di banyak daerah, hujan ekstrem yang biasanya diserap oleh sistem hidrologi alam menjadi malapetaka lantaran wilayah hulu kehilangan fungsi ekologisnya. Ini tentu bukanlah fenomena alamiah semata, melainkan fenomena yang dipengaruhi oleh keputusan politik dan kuasa.

 

Selain itu, kita juga bertanya-tanya: mengapa bencana alam yang silih berganti ini tak kunjung bisa dideteksi lebih awal dan kerap kali gagal dimitigasi? Bukankah negeri ini punya teknologi pendeteksi? Bukankah kita punya peta wilayah yang rawan? Bukankah sudah ada berbagai kajian, baik itu banjir, tanah longsor dan sebagainya di negeri ini? lalu mengapa pertambangan, penebangan liar dan tindakan yang menyalahi hukum alam ini tetap dibiarkan, seolah resiko hanyalah catatan kaki yang tidak penting?

 

Mengapa bencana-bencana yang disebabkan oleh kerakusan dan ketamakan sekawanan oligark, ketidakberpihakan kebijakan, keputusan politik yang tumpang tindih, masih disebut sebagai bencana alam? Mengapa kata “alam” seringkali dijadikan kambing hitam, sementara kebijakan mitigasi sendiri tidak pernah betul-betul direalisasikan? Mengapa? Mengapa? Mengapa, kisanak? Aduh.

 

Dan, mengapa berbagai proyek seringkali dipromosikan sebagai lompatan ekonomi dan kedaulatan industri, tetapi tidak memperhatikan dampak lingkungan? Mengapa ketika pesisir rusak, udara tercemar, dan masyarakat adat tersingkir negara seringkali hadir bukan sebagai pelindung melainkan fasilitator kerusakan, mengapa? Di jantung persoalan ini sains lingkungan dan prinsip moral agama diabaikan bukan lantaran tidak ada, melainkan karena tidak menguntungkan baik secara politik maupun ekonomi. Dan barangkali juga karena tidak ada kelaminnya, bukan? Mungkin.

 

Pada akhirnya, persoalan ini bukanlah pertentangan antara sains dan agama, tetapi kegagalan negara dalam menempatkan keduanya secara jujur dan bertanggung jawab. Sains hari ini seharusnya memandu kebijakan, sementara agama memperkuat etika perlindungan kehidupan yang memanusiakan. Namun, ketika keduanya diperalat, yang tersisa hanyalah kebingungan dan korban yang terus berguguran.

 

Sekali lagi, Indonesia tidak kekurangan pengetahuan, juga tidak kekurangan pijakan yang bernilai, tetapi tidak adanya kejelasan keberpihakan dan nir-keberanian politik untuk menolak proyek yang merusak meski bernilai triliunan. Olehnya, selama pemerintah terus ambigu—berpura-pura ilmiah tapi takut pada kepentingan, berbicara moral tetapi abai pada keadilan—bencana ini akan terus berulang nampaknya, bukan sebagai takdir, melainkan sebagai kegagalan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain.  

 

Terakhir, sebagai penulis, saya mendedikasikan essai singkat ini kepada saudara-saudara saya di Aceh yang terdampak. Juga kepada teman-teman yang pernah membersamai saya selama saya di Aceh. Dan kepada perempuan Lauksumawe tercantik yang menjadi lawan debat saya 2017 lalu, semoga engkau baik-baik saja. Juga teruntuk semua korban, Al-fatihah.

 

Salam takzim.


Dukung Penulis
Suka karya ini? Kirim donasi untuk mendukung penulis favoritmu.
Top Donatur Penulis
Pendukung terbaik untuk penulis ini
#1
aku wahyu
1x donasi
Rp1.000
#2
Burhanuddin Elbusiry
1x donasi
Rp1.000
#3
Nur Wahyu Hidayat, M.Pd
1x donasi
Rp1.000
Iklan
❓ Tanya Jawab
Pertanyaan terkait artikel ini
Tanya
Belum ada pertanyaan. Jadi yang pertama 😄
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
Penerjemah dan Pengampu Mata Kuliah Filsafat Timur di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi, Malang.


Info Pembaruan

Terbit: 26 Jan 2026
Diperbarui: 06 Apr 2026

Hak Cipta:
Artikel ini merupakan hak cipta dari Burhanuddin Elbusiry. Dilarang menyalin, memperbanyak, atau mendistribusikan artikel ini tanpa izin tertulis dari penulis. © 2026 Burhanuddin Elbusiry

Komentar (0)

Komentar terbuka
Login untuk menambahkan komentar.
Login
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!