Logo
βŒ•
Menyiasati Mitos Modern

Menyiasati Mitos Modern

Burhanuddin Elbusiry
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
πŸ“ Filsafat Sehari-hari
πŸ‘οΈ 474 β€’ ❀️ 3 β€’ πŸ’¬ 2
⏱️ 1 menit
πŸ“… 26 Jan 2026
Aa AA

Mengapa menanam, menyiram tanaman, cuci piring, menjemur pakaian, masak, menyapu halaman dan pekerjaan rumah lainnya ini penting diupayakan sendiri? Bagaimana Rasionalisasinya? 

 

Baik, saat ini dengan semakin gencarnya kampanye robotisasi yang menjadi perpanjangan tangan sistem saraf manusia, dimana beberapa dasawarsa sebelumnya teknologi dengan corak mekanistik mewakili tubuh, kita terjebak pada komunikasi yang tidak sepenuhnya melibatkan jiwa, pikiran dan juga raga. Kita seakan memasuki satu era di mana mitos modern menggejala: kesadaran menjadi kian langka dalam menjalani keseharian; jauh dari laboratorium kehidupan. 

 

Ketidakterlibatan iniβ€”untuk tidak mengatakan abai apalagi malasβ€”memicu sikap yang sedemikian rentang khususnya bagi milenial dan zilenial. Kita bahkan lebih mudah tersinggung, gampang lelah, abai, cengeng, penakut, perenge, nir-daya juang bahkan terkadang tak punya rasa malu. Kita betul-betul berada pada pusaran kebingungan dan kesepian yang kian mencekam dalam kepungan budaya instan penuh kepalsuan, justru di puncak-puncak penemuan teknologi mutakhir abad ini. 

Iklan

 

Tak ubahnya sang raja yang suatu hari melihat bunga di pekarangan istana, lalu berujar bahwa tak sesuatu pun yang lebih indah dari bunga. Tidak lama kemudian, ahli ukir batu pualam menghadap raja seraya menyodorkan pahatan bunga. Raja sedemikian terpukau dan menghadiahinya seribu koin uang emas. Sejurus itu, seorang bocah membawakannya setangkai bunga mawar, ia lalu memberinya sekeping uang perak. 

 

Ya. Kira-kira demikian. Sesuatu yang sebetulnya tidak nyata tampak lebih memukau bagi kita. Gambar, replika, miniatur, video dan segala sesuatu dalam bentuknya yang bahkan paling konyol dan memuakkan di rimba maya di mana kebenaran dan kepalsuan bercampur-baur, ilusi dan kenyataan berpadu, hoaks dan haq tak terelakkan, perbedaan fakta dan rekayasa membingungkan. Inilah mitos-mitos modern dari duplikasi realitas, nostalgia dan fantasi yang memicu kesurupan massal abad ini. Kita terjebak pada tsunami informasi dan hoaks tak terbendung yang bergentayangan di jagad maya.  

 

Teknologi dan Pengaruhnya

 

Adalah Sherry Turkle dalam bukunya Alone Together: Why we expect more from technology and less from each other, mendedahkan bagaimana pengaruh teknologi pada manusia. Bahwa keterhubungan manusia pada yang maya kuasa (bukan maha kuasa) adalah upaya mencari solusi dari kerentangannya menghadapi dunia nyata. Tapi, alih-alih menjadi jalan keluar, keterhubungan itu malah menjadi satu penyakit tersendiri. lantaran dengan terhubung kita justru jauh dari realitas. Bahkan, tidak sedikit yang memilih berbicara melalui gawai kendati mereka berdekatan. 

 

Suatu hari, ujar Sherey Turkle, kita barangkali akan belajar bagaimana cara berinteraksi dan berkomunikasi secara langsung lantaran terlampau sering menghabiskan waktu berselancar di dunia maya. Kita sudah jarang berjumpa dan berkomunikasi secara korporeal yang membuat kepekaan dan sensivitas sosial menurun. Hal ini, saya kira, memberi kesimpulan sementara, kalau-kalau gegap gempita inilah salah satu penyebab mengapa generasi milienial dan zilenial boleh dibilang nir-akhlak atau kurang sopan saat ini.


Yang tak kalah mengerikan, dewasa ini, tidak jarang yang memutuskan menikahi robot, hologram, pohon, dan juga non-manusia lainnya, dengan alasan lebih sesuai harapan, tidak rewel, tidak ngambekan, tidak egois dan seterusnya. Mereka takut kecewa dan ingin terus-terus dipatuhi di satu sisi dan mengatur pasangan sekehendaknya di sisi lain. Bahkan, yang anti kritik atas hubungan aneh yang menyalahi fitrah manusia itu dengan lantang meneriakkan bahwa yang menolaknya berarti rasis (species chauvinisme). Ya. Ironis, memang. 


Apalagi ketika masa pandemi kemarin, gelombang krisis kedirian meroket lantaran keadaan memaksa kita untuk tak bersosial. Kita lalu berduyun-duyun menghibur diri karena sudah tak terbiasa menyendiri dengan cara terhubung lebih intens ke yang maya kuasa melalui gawai. Pada ranah ini, berlakulah satu prinsip: saya nge-share maka saya ada (I share therefore I am). 

 

Dan, naasnya, kehidupan nyata ini kita jadikan seolah sekedipan mata saja lalu kembali khusyuk berselancar di rimba maya dengan berjubel vitur semu di dalamnya. Anehnya, yang sesekali aktif di sosmed dicap sang liyan, lost contact, anti sosial, serta kampungan. Dan, yang dianggap memenuhi standar serta modern adalah mereka yang melakukan sebaliknya. 

 

Tentu, tulisan ini bukan untuk menafikkan sumbangsih teknologi pada peradaban, serta mencampakkan seutuhnya kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan. Apalagi sampai mengajak kembali ke zaman purba. Bukan. Sama sekali bukan. Hanya saja, teknologi terbilang gagal memberi kebahagiaan, kenyamanannya nampak semu dan lebih menyerupai virus dibanding obat tatkala tidak digunakan dengan bijak. Itu saja

 

Segendang sepenarian dengan itu, Jalaluddin Rahmat dalam Psikologi Komunikasi, menceritakan bagaimana seorang anak yang dikurung dalam waktu yang lama tanpa berinteraksi dan minus aktivitas keseharian lamat-lamat kehilangan kemampuan dalam bersosial. Ketidakterlibatan jiwa, pikiran dan juga raga menjadikannya gagap. 

 

Beberapa riset, bahkan, mengungkap bahwa jarangnya tubuh bergerak seperti melakukan olahraga dan aktivitas keseharian lainnya memicu gangguan mental, menurunkan kecerdasan, emosi tak terkelola dengan baik, sulit mengelola stress, tidak percaya diri dan daya sentuh serta kepekaannya bermasalah. 

 

Kurang lebih sebagaimana otot, semakin sering digunakan akan kian terlatih, kuat dan adaptif. Tidak rentang. Demikian pula otak dan jiwa jika terus diasah akan semakin cakap serta peka. Sebaliknya, kalau didiamkan kemampuannya akan menyusut.

 

Seni Meloloskan Diri

 

Pada episentrum ini, tak ada salahnya kita menengok kembali pesan sederhana orang tua dahulu: jangan biarkan orang lain, siapapun itu, mencuci (maaf) pakaian dalammu selagi engkau bisa. Sekilas hal ini tidak ilmiah terlebih dengan menjamurnya jasa binatu saat ini atau mungkin tidak sesuai selera bagi yang senang menghamburkan uang dengan prinsip sekali pakai: Sudah pakai buang. Tapi, ini justru salah satu langkah kecil untuk keluar dari 'jebakan' yang manusia buat sendiri, nampaknya. 

 

Dengan aktivitas sederhana itu pula, kita bisa merasakan langsung kejadian-kejadian di sekitar. Bagaimana tangan menggenggam sapu menyusur ke sisi ruangan; menyadari spons penuh busa yang digerakkan perlahan hingga menjangkau cekungan gelas dan piring di wastafel; serta merasakan bagaimana percikan minyak mengenai kulit kala menggoreng ikan teri pontianak, semisal. 

 


Demikian halnya ketika mengamati sekeliling dan menyiangi atau menyiram bebungaan juga sayur-mayur, yang tidak hanya untuk keindahan pekarangan tapi juga ketahanan pangan. Beserta seluruh hal yang kemudian mengantarkan kita lebih menghargai waktu dan keintiman dengan diri sendiri. Menghayati akan detak perdetik jam dinding dan suara-suara serangga malam serta dengung-dengung abadi semesta di mayapada ini.


Selain itu, bukankah aktivitas yang melibatkan kesadaran penuh sebagai manusia adalah upaya pembentukan kepribadian yang paling fantastik, bahkan pemungkin paling gigantis, berdaya saing, gargantuan tanpa biaya mahal serta mangkus nan sangkil menyiasati mitos-mitos modern abad ini yang sedemikian membelenggu potensi dan daya kreatif!?

 

Nah, pada momentum inilah, saya kira, kita akan menghirup kesegaran udara kejujuran yang lebih dekat dengan dunia nyata. Bukan rekaan. Yang menggerakkan kita untuk lebih memanfaatkan kesempatan dengan baik daripada sekadar menghabiskan waktu berselancar di rimba maya tanpa tujuan. 

 

Dan, kabar baiknya, pesantren sebagai sistem sekolah asli negeri ini sejak dulu telah mengamalkan piranti yang sudah teruji ratusan tahun lamanya dari generasi ke generasi. Budaya mengabdi dengan turun langsung mengakrabi realitas, melatih kemandirian dalam aktivitas keseharian yang digagas para guru dan ulama serta pewaris para nabi, di satu sisi, adalah budaya tanding (counter culture) sekaligus kurikulum kehidupan. 

 

Lalu, saat ini, relakah kita menukar gagasan para pendahulu dengan sesuatu yang belum teruji kualitasnya, dan belum tervalidasi kedigadayaan serta kegargantuangannya dalam segala situasi dan keadaan!? Saya kira, tidak satu pun di antara kita yang ingin menanggung resiko lebih dari hari ini.


Dukung Penulis
Suka karya ini? Kirim donasi untuk mendukung penulis favoritmu.
Top Donatur Penulis
Pendukung terbaik untuk penulis ini
#1
aku wahyu
1x donasi
Rp1.000
#2
Burhanuddin Elbusiry
1x donasi
Rp1.000
#3
Nur Wahyu Hidayat, M.Pd
1x donasi
Rp1.000
Iklan
❓ Tanya Jawab
Pertanyaan terkait artikel ini
Tanya
Belum ada pertanyaan. Jadi yang pertama πŸ˜„
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
Penerjemah dan Pengampu Mata Kuliah Filsafat Timur di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi, Malang.


Info Pembaruan

Terbit: 26 Jan 2026
Diperbarui: 02 Apr 2026

Hak Cipta:
Artikel ini merupakan hak cipta dari Burhanuddin Elbusiry. Dilarang menyalin, memperbanyak, atau mendistribusikan artikel ini tanpa izin tertulis dari penulis. Β© 2026 Burhanuddin Elbusiry

Artikel Terkait

Wisata, Waktu Luang, dan Kegelisahan Modernitas
πŸ“
30 Jan 2026

Wisata, Waktu Luang, dan Kegelisahan Modernitas

Barangkali seni berlibur yang hilang dari diri kita bukanlah soal pergi, tapi bagaimana kita kembali; Kembali ke dalam diri. Lantaran Prambanan dan wisata lain dengan segala keramain dan hiruk-pikuknya, mengajarakan satu hal yang cukup ironis bagi saya: di tengah orang-orang yang mencari jeda, keheningan justru menjadi hal yang paling langka.
πŸ‘οΈ 456 β€’ ❀️ 2
Baca β†’
Seni Menerima Kegundahan: Sebuah Jalan Menuju Kedalaman Diri
πŸ“
27 Jan 2026

Seni Menerima Kegundahan: Sebuah Jalan Menuju Kedalaman Diri

Dalam hiruk pikuk kehidupan modern yang serba cepat, kita sering kali didorong untuk selalu merasa bahagia, optimis, dan produktif. Kegundahan, kesedihan, atau melankoli seringkali dianggap sebagai emosi yang harus dihindari, diobati, atau disembunyikan. Namun, bagaimana jika kita mengubah perspektif? Bagaimana jika kegundahan bukanlah musuh, melainkan sebuah guru yang berharga, sebuah jalan menuju pemahaman diri yang lebih dalam?
πŸ‘οΈ 129 β€’ ❀️ 1
Baca β†’
Mistik Keseharian
πŸ“
23 Feb 2026

Mistik Keseharian

Mungkin di tengah hiruk-pikuk zaman ini, yang paling revolusioner justru adalah belajar β€˜diam’; yang paling gigantis adalah mengambil jarak; yang paling radikal adalah belajar mengalami; dan yang paling filosofis adalah kembali menyusur labirin-labirin dan ruang hening di dalam diri, tempat kita bertemu dengan eksistensi diri tanpa perantara dan ilusi.
πŸ‘οΈ 339 β€’ ❀️ 1
Baca β†’

Komentar (2)

Komentar terbuka
Login untuk menambahkan komentar.
Login
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!