Sepanjang perjalanan menyisir Prambanan yang disesaki pengunjung dari berbagai daerah, saya membatin: apa sebegitu pentingnya berlibur seperti ini, sampai-sampai mereka yang sudah tidak bisa jalan pun datang dengan kursi roda dan sebagainya? Apa manusia saat ini sudah kehilangan seni berlibur ke dalam diri? Atau ini tidak lebih dari sekadar FOMOβfear of missing outβtakut ketinggalan momen yang dialami orang lain? Ataukah ada upaya menjejaki petilasan para leluhur meski dengan cara yang serba modern dan kadang terburu-buru? Entahlah.
Pertanyaan itu saling berkelindan di kepala saya sampai akhirnya berbuah tulisan sederhana ini. Pasalnya, bagi saya, di bawah terik matahari yang menyengat, dan di antara langkah-langkah yang tersendat serta antrean masuk yang mengular, pemandangan itu nampak ganjil dan penuh tanda tanya.
Konten lengkap tersedia setelah login.
Komentar (0)