Logo
βŒ•
Wisata, Waktu Luang, dan Kegelisahan Modernitas

Wisata, Waktu Luang, dan Kegelisahan Modernitas

Burhanuddin Elbusiry
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
πŸ“ Filsafat Sehari-hari
πŸ‘οΈ 456 β€’ ❀️ 2 β€’ πŸ’¬ 0
⏱️ 1 menit
πŸ“… 30 Jan 2026
Ringkasan:
Barangkali seni berlibur yang hilang dari diri kita bukanlah soal pergi, tapi bagaimana kita kembali; Kembali ke dalam diri. Lantaran Prambanan dan wisata lain dengan segala keramain dan hiruk-pikuknya, mengajarakan satu hal yang cukup ironis bagi saya: di tengah orang-orang yang mencari jeda, keheningan justru menjadi hal yang paling langka.
Aa AA

Sepanjang perjalanan menyisir Prambanan yang disesaki pengunjung dari berbagai daerah, saya membatin: apa sebegitu pentingnya berlibur seperti ini, sampai-sampai mereka yang sudah tidak bisa jalan pun datang dengan kursi roda dan sebagainya? Apa manusia saat ini sudah kehilangan seni berlibur ke dalam diri? Atau ini tidak lebih dari sekadar FOMOβ€”fear of missing outβ€”takut ketinggalan momen yang dialami orang lain? Ataukah ada upaya menjejaki petilasan para leluhur meski dengan cara yang serba modern dan kadang terburu-buru? Entahlah.


Pertanyaan itu saling berkelindan di kepala saya sampai akhirnya berbuah tulisan sederhana ini. Pasalnya, bagi saya, di bawah terik matahari yang menyengat, dan di antara langkah-langkah yang tersendat serta antrean masuk yang mengular, pemandangan itu nampak ganjil dan penuh tanda tanya. 


Memang, dalam psikologi budaya, liburan sering dipahami bukan sekadar jeda dari kerja, melainkan upaya pemulihan makna. Victor Turner, semisal, menyebut pengalaman semacam ini sebagai liminality: keadaan antara ketika seseorang keluar dari rutinitas sehari-hari dan memasuki ruang transisi. Prambanan dalam konteks ini, bukan hanya objek wisata, tapi ruang liminal itu. Orang-orang berduyun-duyun datang membawa segenap identitas sosialnya, lalu sejenak menanggalkan, atau setidaknya melonggarkannya. Mereka ingin merasakan begaimana menjadi bebas, bagaimana menjadi diri sendiri, atau bagaimana menjadi orang lain walau hanya sebentar. 

Iklan


Namun, galibnya, dalam masyarakat yang lupa cara melambat dan haus dokumentasi seperti sekarang ini, liminalitas itu seringkali dangkal dan dipenuhi riak-riak. Kamera seolah lebih sibuk bekerja dari pada batin kita. Jean Boudrillard barangkali akan menyebut ini sebagai simulacra of simulacrum: pengalaman yang tidak lagi merujuk pada makna asli, melainkan pada citra pengalaman itu sendiri. jadinya, berlibur bukan lagi soal mengalami, namun terlihat mengalami. Kita berlibur bukan lantaran dorongan dari pedalaman diri tetapi motif simbolik: β€œaku juga pernah ke sana.” Kira-kira begitu. 


Pada titik ini, media sosial seolah mencipta standar kebahagiaan yang seragam: tempat tertentu, sudut tertentu, pose tertentu dan juga gaya do’i tertentu. kwkwk. jadi, kita datang ke Prambanan bukan lantaran ingin memahami kosmologi Hindu-Jawa atau kisah Roro Jonggrang, tapi ingin dikenal. Prambanan, pada jantung persoalan ini, telah menjadi penanda sosial. Olehnya, kebanyakan orang berpikir: tidak kesana berarti tidak keren atau tidak bisa nimbrung di bincang-bincang janda Nusantara malam rabu atau klub jomblo bintang lima (kalau ada. hehe) dan sebagainya. Di sinilah liburan itu menjadi investasi citra, modal simbolik dan seterusnya. 


Tapi, menyederhanakan ini sebagai FOMO belaka, nampakya tidak elok juga, sebab dalam diri kita sebagai manusia ada ceruk-ceruk sunyi yang perlu dikunjungi melalui mediasi. Dan Prambanan hadir sebagai situs purba yang menawarkan keterhubungan kembali dengan sejarah, leluhur dan sesuatu yang bahkan lebih besar dari itu. Dan saya menduga, mungkin inilah yang dicari orang-orang sehingga datang ke sini, bukan hanya ingin mengunjungi candi sebagai bangunan, tapi rasa terhubung yang kian langka dan aus yang ditelang sejarah justru di era telekomunikasi yang semakin canggih ini. 


Selain itu, sebenarnya, kalau dipikir-pikir, dalam konteks Indonesia, hal ini agak paradoks: kita seringkali memutus hubungan dengan masa lalu tapi sekaligus meromantiskannya; kita mengaggap biasa peninggalan leluhur tapi juga meramaikannya. ya, kita hadir bukan lagi sebagai praktik hidup melainkan kunjungan belaka. Kita datang berfoto, lalu pulang tanpa sungguh-sungguh membawa nilai. Saya teringat dengan Clifford Geertz, ia pernah mewanti-wanti bahwa kebudayaan bukan sekadar simbol tetapi sistem makna yang hidup. tatkala simbolnya diambil tanpa maknanya, yang tersisa hanyalah keramaian semata.


Namun, apa pun pemaknaanya, jalan-jalan secara umum itu bagus, yang penting jangan sering-sering, pasalnya tidak gratis. Hehe. Lagi pula, liburan yang terlalu sering justru akan menghilangkan daya pukau dan segarnya. Ia akan berubah dari jeda menjadi kebiasaan, dari obat menjadi candu. Ya, sebagaimana ujar-ujar di pondok kami: nikmati selagi bisa sudahi sebelum terbiasa. Di sinilah kelangkaan itu menjadi sangat berharga sepertinya, yang jelasnya bukan kelangkaan BBM dan kebutuhan pokok lainnya. hehe. karena kalau itu, malapetaka namanya.


Terakhir, barangkali seni berlibur yang hilang dari diri kita bukanlah soal pergi, tapi bagaimana kita kembali; Kembali ke dalam diri. Lantaran Prambanan dan wisata lain dengan segala keramain dan hiruk-pikuknya, mengajarakan satu hal yang cukup ironis bagi saya: di tengah orang-orang yang mencari jeda, keheningan justru menjadi hal yang paling langka.

Dukung Penulis
Suka karya ini? Kirim donasi untuk mendukung penulis favoritmu.
Top Donatur Penulis
Pendukung terbaik untuk penulis ini
#1
aku wahyu
1x donasi
Rp1.000
#2
Burhanuddin Elbusiry
1x donasi
Rp1.000
#3
Nur Wahyu Hidayat, M.Pd
1x donasi
Rp1.000
Iklan
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
Penerjemah dan Pengampu Mata Kuliah Filsafat Timur di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi, Malang.


Info Pembaruan

Terbit: 30 Jan 2026
Diperbarui: 05 Apr 2026

Hak Cipta:
Artikel ini merupakan hak cipta dari Burhanuddin Elbusiry. Dilarang menyalin, memperbanyak, atau mendistribusikan artikel ini tanpa izin tertulis dari penulis. Β© 2026 Burhanuddin Elbusiry

Komentar (0)

Komentar terbuka
Login untuk menambahkan komentar.
Login
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!