Filsafat Sehari-hari
Mungkin di tengah hiruk-pikuk zaman ini, yang paling revolusioner justru adalah belajar βdiamβ; yang paling gigantis adalah mengambil jarak; yang paling radikal adalah belajar mengalami; dan yang paling filosofis adalah kembali menyusur labirin-labirin dan ruang hening di dalam diri, tempat kita bertemu dengan eksistensi diri tanpa perantara dan ilusi.
Barangkali seni berlibur yang hilang dari diri kita bukanlah soal pergi, tapi bagaimana kita kembali; Kembali ke dalam diri. Lantaran Prambanan dan wisata lain dengan segala keramain dan hiruk-pikuknya, mengajarakan satu hal yang cukup ironis bagi saya: di tengah orang-orang yang mencari jeda, keheningan justru menjadi hal yang paling langka.
Dalam hiruk pikuk kehidupan modern yang serba cepat, kita sering kali didorong untuk selalu merasa bahagia, optimis, dan produktif. Kegundahan, kesedihan, atau melankoli seringkali dianggap sebagai emosi yang harus dihindari, diobati, atau disembunyikan. Namun, bagaimana jika kita mengubah perspektif? Bagaimana jika kegundahan bukanlah musuh, melainkan sebuah guru yang berharga, sebuah jalan menuju pemahaman diri yang lebih dalam?
Menggeluti filsafat dan sains bukanlah meniru orang lain, melainkan melanjutkan apa yang telah digagas oleh leluhur kita sejak ribuan tahun lamanya.
Di hadapan dunia yang sedemikian determinstik dewasa ini, keraguan bukanlah kelemahan, ia adalah tanda bahwa kita masih berpikir, masih manusia, dan masih bersetia pada martabat pencarian makna dan kebenaran yang senantiasa membelum dan tak mengenal kata sudah.