Logo
Mistik Keseharian

Mistik Keseharian

Burhanuddin Elbusiry
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
📝 Filsafat Sehari-hari
👁️ 338 • ❤️ 1 • 💬 0
⏱️ 1 menit
📅 23 Feb 2026
Ringkasan:
Mungkin di tengah hiruk-pikuk zaman ini, yang paling revolusioner justru adalah belajar ‘diam’; yang paling gigantis adalah mengambil jarak; yang paling radikal adalah belajar mengalami; dan yang paling filosofis adalah kembali menyusur labirin-labirin dan ruang hening di dalam diri, tempat kita bertemu dengan eksistensi diri tanpa perantara dan ilusi.
Aa AA

Kapan terakhir kali kita benar-benar mengalami sesuatu tanpa menilainya, tanpa memberinya nama, atau tanpa tergesa-gesa memahaminya? Pernahkah kita merasakan momen ketika sesuatu menyentuh batin sebelum pikiran sempat menjelaskannya? Apakah kita masih mengingat bagaimana rasanya diam dalam permenung-hayatan? Apakah kita masih tahu cara mengalami atau hanya sibuk memahami?


Baik, sebetulnya, dalam relung-relung batin manusia ada ruang hening yang tidak dapat dijangkau hanya dengan ketajaman berpikir, melainkan dengan kebeningan dan keheningan budi. Ia bukan wilayah logika yang sibuk menimbang, bukan pula arena analisis yang sibuk mengurai. Ia adalah ruang di mana kesadaran berhenti berisik dan jiwa berhenti tergesa. Di sana, manusia tidak sedang menjadi pengamat, melainkan menjadi yang mengalami.

 

Hal ini bisa berlangsung kapan saja, sebenarnya. Ketika kita membaca, mendengarkan musik, menikmati seni, atau menghayati kerja-kerja keseharian, di sanalah jua perjumpaan eksistensi terjadi. Bukan perjumpaan yang spektakuler, melainkan perjumpaan yang sunyi, intim, dan nyaris tak disadari. Inilah suara-suara dalam diri, kira-kira. Inilah mengalami. Inilah mistik keseharian dengan keterlibatan totalitas diri tanpa jarak, tanpa pretensi, tanpa kalkulasi. Hemat saya, inilah tasalfa—mengalami filsafat—dalam bentuk yang paling sederhana sekaligus paling murni.

Iklan

 

Pengalaman ini berlangsung di fase pra-kognitif. Ia terjadi sebelum pikiran memberi nama, sebelum bahasa merangkai makna, sebelum penilaian memutuskan benar atau salah. Ia bukan peristiwa memahami, melainkan membiarkan memahami. Dalam keadaan ini, manusia tidak lagi berdiri sebagai subjek yang memandang objek, sebagaimana disiar-wartakan hampir sepanjang sejarah filsafat modern. Pemisahan, pada ranah ini, itu luluh. Yang tersisa hanyalah keterlibatan yang utuh. Kurang lebih begitu.

 

Dalam studi fenomenologi Merleau-Ponty, ada istilah yang agak merepresentasikan—sekali lagi, agak—pengalaman semacam ini, yang disebut sebagai lived experience—pengalaman yang hidup; yang meniadakan dualitas; yang tidak terpecah antara pikiran dan tubuh, antara subjek dan dunia. Dunia tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang berada “di luar sana”, melainkan hadir dan dialami melalui tubuh yang merasakan.


Dalam konteks ini, membaca, semisal, bukan sekadar aktivitas kognitif, melainkan pengalaman yang menyentuh keseluruhan diri. Musik, pada jantung persoalan ini, bukan sekadar bunyi, melainkan getar yang meresap ke kesadaran inti. Seni bukan lagi sekadar objek visual, tetapi peristiwa batiniah. singkatnya, dunia hadir sebagai horizon makna di hadapan manusia.

 

Martin Heidegger juga mengisyaratkan hal serupa ketika membincang tentang being-in-the-world. Menurutnya, manusia tidak pernah berdiri di luar dunia untuk mengamatinya secara netral. Ia selalu sudah berada di dalamnya, terlibat, terjalin, dan menyatu. Dan, kesadaran yang hening memungkinkan manusia kembali merasakan keterlibatan ini, sebelum ia terpecah oleh kategori-kategori rasional yang cenderung kaku itu.

 

Tradisi Timur bahkan telah lama menekankan pentingnya keheningan ini. Dalam Zen, pengalaman ini disebut sebagai satori—pencerahan yang tidak diperoleh melalui argumentasi, melainkan keheningan dan perhatian penuh pada momen kini. Dalam tasawuf, pengalaman semacam ini—yang bahkan lebih tinggi—dikenal sebagai hudhur atau hadir merasakan dzauq—rasa yang tidak bisa dijelaskan, getar batin tepermanai, kesadaran hidup yang membuncah dan tak terperih. Di sinilah, saya kira, filsafat menemukan resonansinya: filsafat yang bukan lagi sekadar berpikir tentang kehidupan, tetapi mengalami kehidupan itu sendiri—tasalfa.

 

Dan, hal inilah yang semestinya paling intim dengan diri sendiri. lantaran ia adalah ruang perjumpaan terdalam antara manusia dan eksistensinya. Namun, seiring berjalannya waktu, ruang hening ini kian berisik. Ia dipenuhi kegaduhan politik tak karuan, retorika picisan media massa, bualan para penceramah, dan bujuk rayu sekawanan elit global serta manipulasi segerombolan kartel-kartel racun dan makanan sampah lainnya. Kesadaran kita lalu diseret keluar, dijejali oleh opini, dipaksa untuk bereaksi hingga melangkah ke arah hilang arti.

 

Sekaitan dengan ini, Guy Debord dalam Society of the Spectacle menggambarkan bagaimana kehidupan modern berubah menjadi tontonan tanpa henti. Manusia, menurutnya, tidak lagi mengalami dunia secara langsung, melainkan melalui representasi—iklan, media, komoditas, pencitraan, simbol, status, bahkan gaya hidup—yang terus diproduksi.


Akibatnya, ruang hening di dalam diri perlahan tergerus. Yang tersisa adalah kesadaran yang sibuk, tetapi kosong; aktif, tetapi tidak mengalami. Ia perlahan menjadi ilusi kolektif yang dinamai sebagai kesadaran bahkan dijadikan sebagai prinsip hidup.

 

Di tengah kondisi seperti ini, kembali ke ruang hening bukanlah kemunduran, melainkan pemulihan. Ia adalah upaya merebut kembali kedaulatan semesta batin kita dari kebisingan eksternal. Dengan membaca secara khusyuk, semisal, mendengarkan musik tertentu dengan penuh perhatian, menikmati seni tanpa tergesa, atau menghayati pekerjaan sehari-hari dengan kesadaran utuh, bahkan sesekali melakukan meditasi dan kontemplasi seraya mengamati serta menyadari nafas, manusia sebenarnya sedang memulihkan kemampuannya untuk mengalami.

 

Singkatnya, inilah praktik penghadiran diri yang sederhana. Ia tidak menuntut teori yang rumit, melainkan perhatian yang jernih. Ia tidak meminta analisis yang tajam, tetapi keheningan yang dalam. Dan di sanalah filsafat kembali ke akarnya: bukan sebagai tumpukan konsep, tetapi sebagai cara kita berada di dunia.

 

Terakhir, mungkin di tengah hiruk-pikuk zaman ini, yang paling revolusioner justru adalah belajar ‘diam’; yang paling gigantis adalah mengambil jarak; yang paling radikal adalah belajar mengalami; dan yang paling filosofis adalah kembali menyusur labirin-labirin dan ruang hening di dalam diri, tempat kita bertemu dengan eksistensi diri tanpa perantara dan ilusi.  


Dukung Penulis
Suka karya ini? Kirim donasi untuk mendukung penulis favoritmu.
Top Donatur Penulis
Pendukung terbaik untuk penulis ini
#1
aku wahyu
1x donasi
Rp1.000
#2
Burhanuddin Elbusiry
1x donasi
Rp1.000
#3
Nur Wahyu Hidayat, M.Pd
1x donasi
Rp1.000
Iklan
❓ Tanya Jawab
Pertanyaan terkait artikel ini
Tanya
Belum ada pertanyaan. Jadi yang pertama 😄
Burhanuddin Elbusiry
@Burhanuddin Elbusiry
Penerjemah dan Pengampu Mata Kuliah Filsafat Timur di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi, Malang.


Info Pembaruan

Terbit: 23 Feb 2026
Diperbarui: 05 Apr 2026

Hak Cipta:
Artikel ini merupakan hak cipta dari Burhanuddin Elbusiry. Dilarang menyalin, memperbanyak, atau mendistribusikan artikel ini tanpa izin tertulis dari penulis. © 2026 Burhanuddin Elbusiry

Komentar (0)

Komentar terbuka
Login untuk menambahkan komentar.
Login
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!