Logo
βŒ•
Sekolah Rasa Pabrik: Murid Masuk, Produk Keluar
Beranda β€’ Artikel β€’ Wajah Pendidikan

Sekolah Rasa Pabrik: Murid Masuk, Produk Keluar

@Suharsono
@Suharsono
@Suharsono
πŸ“ Wajah Pendidikan
πŸ‘οΈ 77 β€’ ❀️ 3 β€’ πŸ’¬ 0
⏱️ 1 menit
πŸ“… 03 Mar 2026
Ringkasan:
Pendidikan tidak seharusnya sibuk mencetak manusia sesuai pesanan sistem, melainkan harus kembali pada tugas asasinya: menuntun manusia agar merdeka sebagai manusia. Jika tidak, maka pendidikan kita bukan sedang mendidik, melainkan sedang memproduksi generasi yang rapi secara administratif, tetapi kosong secara kemanusiaan.
Aa AA

Dalam sebuah forum formal yang dihadiri oleh beberapa guru sebuah institusi pendidikan, moderator memperkenalkan pembicara dengan sangat apik. Ia adalah salah seorang dosen dan juga merupakan mahasiswa program doktoral manajemen pendidikan. Ia akan membahas sebuah topik tentang mutu pendidikan. Slide presentasi ditampilkan. Beberapa kutipan jurnal ilmiah disisipkan untuk mendukung pengetahuan yang coba ia sebarkan dihadapan beberapa guru.


Kutipan tahun 2011, 2013, bahkan tahun 1990an. Kolot, batinku. Dalam konteks ilmiah, Kutipan-kutipan yang diambil tidak mencerminkan kebaruan pengetahun. Akhirnya, ia mulai berbicara panjang lebar. Namun, satu hal yang mengganggu pikiran saya: ia menganggap murid itu adalah sebuah produk yang bisa dibentuk sesuai tujuan institusi: sekolah.


Salah satu kekeliruan paling mendasar dalam praktik pendidikan hari ini adalah cara pandang yang memperlakukan murid sebagai produk. Dalam logika ini, sekolah berfungsi layaknya pabrik, kurikulum menjadi mesin produksi, guru berperan sebagai operator, dan murid diposisikan sebagai bahan mentah yang harus diproses agar memenuhi standar tertentu. Cara pandang yang memperlakukan murid sebagai produk berakar pada apa yang oleh Michel Foucault disebut sebagai rezim pengetahuan-disiplin.

Iklan


Dalam Discipline and Punish, Foucault menunjukkan bahwa institusi modern, termasuk sekolah, bekerja melalui mekanisme normalisasi, pengukuran, dan pengawasan. Murid yang direduksi menjadi skor, peringkat, dan capaian standar tidak lagi diperlakukan sebagai subjek yang berpikir, melainkan sebagai objek yang harus ditata agar patuh terhadap norma. Pendidikan dalam logika ini tidak membebaskan, tetapi mendisiplinkan tubuh dan pikiran agar selaras dengan kebutuhan sistem.


Ki Hajar Dewantara sejak awal menolak pendidikan yang bersifat mekanistik dan koersif. Melalui gagasan among, ia menegaskan bahwa pendidikan bukanlah proses membentuk manusia dari luar, melainkan menuntun kodrat yang telah ada dalam diri anak. Pernyataannya yang masyhur: pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak yang secara tegas menempatkan murid sebagai subjek yang hidup, bukan objek yang bisa direkayasa sesuka sistem.


Namun, realitas pendidikan hari ini justru bergerak ke arah sebaliknya. Murid direduksi menjadi angka, peringkat, dan skor asesmen. Keberhasilan pendidikan ditentukan oleh seberapa dekat murid dengan standar yang telah ditetapkan institusi, pasar, atau industri. Dalam kerangka pemikiran seperti ini, murid tidak lagi dipandang sebagai manusia yang sedang bertumbuh, melainkan sebagai produk setengah jadi yang harus dipoles agar layak jual. Logika tersebut diperparah oleh apa yang dikritik Jean-FranΓ§ois Lyotard sebagai runtuhnya narasi besar dalam masyarakat kontemporer.


Dalam The Postmodern Condition, Lyotard menegaskan bahwa pengetahuan modern kehilangan legitimasi moralnya dan digantikan oleh kriteria performativitas: efisiensi, kegunaan, dan daya saing. Ketika pendidikan tunduk pada logika ini, nilai murid tidak lagi ditentukan oleh proses pemanusiaannya, melainkan oleh seberapa fungsional ia bagi pasar dan industri. Murid menjadi bernilai bukan karena berpikir kritis, tetapi karena berguna bagi industri.


Secara filosofis, paradigma ini menghapus dimensi kemanusiaan dalam pendidikan. Murid dipaksa masuk ke dalam cetakan seragam yang mengabaikan perbedaan kodrat alam dan kodrat zaman; dua konsep kunci dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara. Ketika standar tunggal dipaksakan, murid yang tidak sesuai spesifikasi sistem segera diberi label gagal, tertinggal, atau bermasalah. Yang disalahkan selalu anak, bukan sistem yang menolak keberagaman.


Secara politis, cara pandang murid sebagai produk membuka jalan bagi kolonisasi pendidikan oleh logika pasar. Sekolah berlomba mencetak lulusan yang iap kerja, kompetitif, dan adaptif terhadap industri, sementara fungsi pendidikan sebagai ruang pembentukan nalar kritis, kepekaan sosial, dan keberanian moral semakin terpinggirkan. Pendidikan direduksi menjadi instrumen ekonomi, bukan proses pemerdekaan manusia.


Zygmunt Bauman menggambarkan kondisi ini sebagai bagian dari modernitas cair. Dalam dunia yang serba fleksibel dan tidak pasti, pendidikan dipaksa mencetak individu yang mudah disesuaikan, cepat beradaptasi, dan siap diganti. Murid dilatih untuk menjadi lentur secara fungsional, tetapi rapuh secara etis. Dalam situasi ini, pendidikan kehilangan komitmennya pada pembentukan karakter dan tanggung jawab sosial, karena yang dikejar hanyalah kelangsungan kompetitif individu.


Lebih jauh, Paulo Freire, meskipun sering ditempatkan dalam tradisi kritis-modern, memberikan jembatan penting menuju kritik pascamodern melalui penolakannya terhadap banking model of education. Ketika murid diposisikan sebagai wadah kosong yang harus diisi sesuai standar institusi, pendidikan berubah menjadi praktik penindasan simbolik. Murid belajar menerima dunia apa adanya, bukan membaca dan mengubahnya. Inilah bentuk dehumanisasi yang halus, karena berlangsung atas nama mutu, profesionalisme, dan kemajuan.


Lebih jauh lagi, pendidikan yang memosisikan murid sebagai produk sesungguhnya sedang memproduksi kepatuhan, bukan kecerdasan; menghasilkan ketaatan prosedural, bukan kemerdekaan berpikir. Murid dilatih untuk menyesuaikan diri, bukan mempertanyakan; untuk lulus, bukan memahami; untuk patuh, bukan bertanggung jawab. Ini adalah bentuk kekerasan simbolik yang halus namun sistemik, karena dibungkus atas nama mutu dan daya saing.


Padahal, Ki Hajar Dewantara dengan tegas menempatkan kemerdekaan sebagai tujuan utama pendidikan. Prinsip Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani bukanlah sebuah slogan administratif, melainkan kritik radikal terhadap pendidikan otoriter dan mekanistik. Dalam prinsip Tut Wuri Handayani, guru tidak mengendalikan hasil akhir murid, tetapi memberi daya dorong agar murid menemukan jalannya sendiri. Prinsip ini runtuh seketika ketika murid diperlakukan sebagai produk dengan target capaian yang seragam.


Apakah pendidikan kita akan terus mewarisi logika industri yang tidak manusiawi? Jika Ki Hajar Dewantara masih menjadi rujukan moral pendidikan nasional, maka memandang murid sebagai produk adalah sebuah kontradiksi yang tidak bisa ditoleransi. Pendidikan tidak seharusnya sibuk mencetak manusia sesuai pesanan sistem, melainkan harus kembali pada tugas asasinya: menuntun manusia agar merdeka sebagai manusia. Jika tidak, maka pendidikan kita bukan sedang mendidik, melainkan sedang memproduksi generasi yang rapi secara administratif, tetapi kosong secara kemanusiaan.





Dukung Penulis
Suka karya ini? Kirim donasi untuk mendukung penulis favoritmu.
Iklan
❓ Tanya Jawab
Pertanyaan terkait artikel ini
Tanya
Belum ada pertanyaan. Jadi yang pertama πŸ˜„
@Suharsono
@Suharsono
Penulis di Elbusirypedia. Fokus berbagi tulisan yang bermanfaat.


Info Pembaruan

Terbit: 03 Mar 2026
Diperbarui: 06 Apr 2026

Hak Cipta:
Artikel ini merupakan hak cipta dari @Suharsono. Dilarang menyalin, memperbanyak, atau mendistribusikan artikel ini tanpa izin tertulis dari penulis. Β© 2026 @Suharsono

Komentar (0)

Komentar terbuka
Login untuk menambahkan komentar.
Login
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!