Pendidikan tidak seharusnya sibuk mencetak manusia sesuai pesanan sistem, melainkan harus kembali pada tugas asasinya: menuntun manusia agar merdeka sebagai manusia. Jika tidak, maka pendidikan kita bukan sedang mendidik, melainkan sedang memproduksi generasi yang rapi secara administratif, tetapi kosong secara kemanusiaan.
Pendidikan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berkelindan dengan kepentingan ekonomi dan keputusan politik. Tulisan ini mempertanyakan apakah pendidikan kita benar-benar mentransformasi masyarakat, atau hanya mempertahankan sistem yang ada.
prinsip mengajar dengan membiarkan anak belajar adalah hal yang saya pegang sejauh ini. Saya percaya, ketika anak diberi ruang untuk belajar dengan caranya sendiri, mereka tidak hanya menjadi lebih pintar, tetapi juga tumbuh sebagai manusia yang utuh.
Bahasa ini paralel dengan kesusastraan; kebudayaan, agama dan bahkan kemanusiaan. Nah, itu artinya menjaga bahasa Indonesia—dengan berbicara, menulis dalam bahasa Indonesia yang baik—berarti menjaga negara dengan prinsip menjungjung tinggi bahasa Indonesia: melestarikan bahasa daerah dan menguasai bahasa
Menulis menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan Indonesia—baik dalam pendidikan maupun ikhtiar pemanusiaan. Walhasil, menulis bukan hanya soal merancang masa depan, melayani pengetahuan, membela NKRI, atau memajukan bangsa. Lebih dari itu, ia adalah penggagas peradaban. Bahkan, menulis adalah peradaban itu sendiri.